Blog ditutup (pindah)

Isi blog ini akan dipindahkan secara bertahap ke yudiwbs.wordpress.com.

Saya menggunakan Qwords dan terlalu sering bermasalah.  Mungkin bisa saja sih pindah hosting, tapi saya pikir lebih aman dan lebih awet (bisa diakses bertahun2 kemudian)  jika menggunakan WordPress saja.

 

 

 

Tinta Hitam Luntur pada Printer HP GT 5810

Dua bulan yang lalu saya beli printer deskjet warna HP GT5810. Tertarik karena printer ini sudah dari pabrik menggunakan sistem botol jadi harusnya lebih murah tintanya. Kenapa pilih merk HP? karena saya sudah punya laser HP 400 yang memuaskan.

 

Masalah timbul saat saya mau mencetak foto di kertas foto glossy.  Saat disentuh jari, tintanya luntur!  Berdasarkan pengamatan lebih detil, ternyata hanya tinta hitam yang luntur. Setelah googling, ternyata ini hanya dialami oleh printer HP saja. Penyebabnya, untuk tinta hitam, HP menggunakan jenis matte ink, sedangkan untuk tinta warna yang lain menggunakan non-matte (supaya murah?).  Solusi: saat mencetak harus memilih jenis kertas “Photo Paper” bukan glossy, bukan matte.

Baris pertama diprint dengan memilih  jenis kertas photo paper sedangkan baris kedua dengan glossy. Baris pertama tidak luntur, sedangkan baris kedua luntur. Pada baris kedua kolom pertama, bisa dilihat sebagian sudah luntur karena saya ulas dengan jari. Setelah diulas, akan tertinggal hitam yang berbeda (lebih mirip abu-abu). Dapat dilihat juga hitam pada baris kedua lebih bagus karena lebih gelap sedangkan baris pertama agak abu-abu.

Jadi walaupun memilih jenis “photo paper” pada hasil cetak membuat tinta hitam tidak luntur,  tapi efeknya gambar terlihat kurang tajam sehingga lebih jelek (karena hitamnya bukan hitam, tapi lebih abu-abu).  Solusi lain mungkin dengan membeli kertas khusus dari HP (quick dry), tapi mahal: sekitar Rp.200rb untuk 50 lembar (itupun sepertinya susah dicari di Indonesia).

Kesimpulan? sebaiknya jangan beli printer HP untuk jenis deskjet warna.

Pengalaman Menggunakan Tokopedia

Sampai saat ini saya sudah sekitar 25 kali bertransaksi dengan Tokopedia dan saat ini belum pernah ada masalah dengan barang yang dibeli. Menurut saya Tokopedia ini paling baik user interfacenya dibandingkan layanan lain seperti BliBli, Lazada.  Baik app maupun webnya lebih bersih (tidak memaksakan banyak item dalam satu layar) dan punya fasilitas review produk maupun penjual.  Aliran proses dari pesan sampai bayar juga tidak membingungkan. Beberapa hal yang jadi patokan saya sebelum beli:

  1. Lihat reputasi toko (gold atau tidak, persentase transaksi sukses, rating).
  2. Lihat review produk. Cuma hati-hati, ada beberapa produk yang bagus pada awalnya tapi kemudian gampang rusak karena kualitasnya rendah. Tokopedia tidak memperbolehkan user mengupdate skor rating, walaupun review produk bisa diupdate.
  3. Lihat respon penjual saat diskusi produk. Semakin cepat semakin bagus. Kalau belum beli saja sudah malas menjawab, ya repot.  Dari diskusi ini juga dapat kita lihat apakah penjual tahu produk yang dijualnya.
  4. Cek produk serupa di internet, terutama Amazon. Banyak sekali produk di tokopedia yang palsu. Kita juga perlu realistis, tidak mungkin merk mentereng tapi harga murah. Tapi walaupun palsu karena harganya yang sangat murah dan kualitasnya lumayan, beli yang “palsu” juga kadang masih masuk akal. Asal bukan untuk hal-hal yang penting.
  5. Setelah kirim, cek resi di situs JNE/TIKI dst, terutama untuk kecocokan nama dan alamat. Ada beberapa kasus resi palsu (nama cocok, tapi alamat tidak). Jadi walaupun kita belum menerima, tapi oleh sistem sudah dianggap diterima.
  6. Urutkan barang berdasarkan penjualan, lalu harga. Ada produk yang sama tapi harganya beda jauh.

Pengalaman Menjual Mobil via OLX

Saya sudah dengar menjual mobil via OLX akan cepat, jadi penasaran untuk mencoba. Lagipula tidak dalam kondisi buru-buru, jadi saatnya untuk coba layanan ini.

Pasang iklan gratis, saya isi deskripsi dan upload foto-foto. Ternyata untuk deskripsi tidak boleh meletakkan no telp, email, website. Padahal saya punya posting di blog tentang mobil saya yang sangat detil sampai tiap service. Lalu untuk foto maksimal 6 buah dengan resolusinya rendah. Efeknya nanti banyak yang minta foto-foto yang lebih detil. Perlu 1-2 menit antara submit sampai iklan online, ternyata mereka melakukan moderasi dulu (ini bagus).

Tidak lama setelah pasang langsung masuk beberapa telepon dan sms, wah cepat sekali. Untungnya saya menggunakan nomor HP yang terpisah dengan nomor HP yang biasa saya gunakan.Lalu saat pasang, sebaiknya kita dalam kondisi tidak sibuk. Ternyata yang pertamakali bereaksi adalah para pedagang mobil. Enak sih ngomongnya (efisien), tapi mereka menawar dengan harga rendah, maklum untuk dijual lagi. Setelah lewat hari pertama baru mulai ada calon pengguna yang mengontak, tapi kebanyakan tanya berbagai hal, minta foto, tapi ujung-ujungnya ragu.  Tip yang lain, sebaiknya pasang iklan di hari Sabtu pagi atau Jumat siang, kebanyakan orang ingin melihat mobilnya pada hari libur. Tapi jangan terlalu serius juga, ada yang minta janjian ketemu kemudian membatalkan.

Mengenai resiko penipuan, hanya ada satu SMS yang mencurigakan, isinya langsung tertarik dan mau beli begitu saja. Dari yang saya baca, kasusnya adalah menggiring penjual ke ATM untuk ditipu disana (standard: disuruh cek saldo tapi ujung-ujungnya transfer uang ke penipu). Saya tidak balas SMSnya, padahal menarik juga kalau dilanjutkan ya.

Karena ada teman kakak ipar saya yang mau beli (tidak via OLX) dan telah memberikan DP maka iklan saya cabut. Gampang, hanya dengan satu klik, iklan akan non aktif.  Sialnya, orang tersebut setelah satu bulan membatalkan karena kreditnya tidak disetujui 🙁   Sudah ditunggu sebulan, eh tidak jadi juga.  Pelajaran lain: untuk pemberi DP sebaiknya diberi batas waktu maks 2 hari saja untuk melunasi, lebih dari itu perlu dipotong DP-nya, karena merugikan juga sih.

Karena transaksi gagal, maka saya perlu memasang lagi iklan OLX. Tadinya saya pikir tinggal diaktifkan, ternyata harus bayar 25rb.  OK tidak masalah, daripada harus saya upload ulang. Ternyata beda dengan tokopedia, OLX ini tidak bisa topup dengan transfer internet banking BNI atau Niaga. Harus menggunakan ATM Bersama atau kalau yang online dengan Mandiri atau BCA. Setelah dilihat ternyata ada fasilitas kartu kredit via Veritrans, sempat ragu (selama ini tidak pernah menggunakan kartu kredit untuk perusahaan web lokal) tapi karena istri saya pernah bekerjasama dengan Veritrans, dan menurutnya aman, maka saya lanjutkan. Transaksi kartu kredit via veritrans ini bagusnya meminta pin dari no HP saya.

Setelah topup dan bayar, iklan terpasang, saya edit harga sehingga turun cukup signifikan karena sudah mulai ingin cepat terjual. Mobil juga sering menggangur tidak dipanaskan, takutnya malah tambah rusak.  Tidak lama ada telepon, tapi yang ini ingin melihat (pembeli serius biasanya langsung ingin melihat). Setengah jam kemudian dia datang, dan setelah OK (harga turun lagi 2 jt deh) langsung kita bertransaksi di bank.  Jam 7 pagi pasang, jam 11 siang transaksi selesai. Memang cepat karena harga sudah turun dan dia pedagang.

Menurut saya user interface OLX ini patut ditiru, sederhana, efektif, saat proses pemasangan iklan cepat sekali. Cuma mungkin karena iklan sangat mudah diakses, banyak calon pembeli yang kurang serius, walaupun asyik juga melayani pertanyaan-pertanyaan calon pembeli hehe.

Pengalaman menggunakan Asus Zenfone Selfie ZD551KL

Setelah Nexus 5 saya akhirnya tewas (terkena air laut, bisa diperbaiki tapi akhirnya satu demi satu komponennya rusak), saya mulai mencari-cari alternatif.  Mengalami tombol power nexus 5 yang bermasalah dan faktor lain, saya tidak mau beli lagi yang terlalu mahal. Percuma juga.

Kriteria yang saya perlukan:

  1. Dual SIM 4G yang support freq 900 dan 1800
  2. Kamera lumayan.  Jangan sampai seperti Android One yang akhirnya kameranya benar-benar tidak bisa digunakan.
  3. Memori >2GB
  4. Ukuran layar besar
  5. Harga semurah mungkin. Tidak terlalu terkesan dengan LG G3 istri dan Nexus5 yang relatif mahal tapi ternyata punya masalah juga.

Dari semua alternatif, saya akhirnya pilih Asus Zenfone Selfie ZD551KL. Padahal saya jarang sekali selfie hehe. Cuma memang ini yang memenuhi kriteria yang saya inginkan 🙂  Untungnya ada warna hitam, sempat khawatir harus beli yang pink.

Setelah beberapa lama menggunakan, menurut saya kualitasnya diatas ekspektasi:

  1. Setelah 6 bulan menggunakan. Fitur batere Asus ini yang paling top! Lebih bagus daripada semua HP yang saya gunakan. Dengan 3000mAh ternyata jauh awet dari dugaan saya. Saya tidak pernah kehabisan daya di siang hari walaupun digunakan habis-habisan (seperti biasa, malam saat saya tidur dicharge). Removable juga baterenya. Asus menyediakan mobile manager app yang membuat app tidak dapat berjalan di background. Ini membuat kinerja jadi bagus (lebih cepat, lebih irit memori dan batere).
  2. Kualitas layar yang bagus: besar, resolusi bagus dan terang. Saya menggunakan app Splendid bawaan dari Asus agar warna di layar lebih sesuai.
  3. Gorilla glass 4 + oleophobic sangat bermanfaat. Layar jauh lebih bersih dan belum ada baret sampai sekarang.
  4. Kamera lumayan. Agak dibawah espektasi sih, terutama untuk foto dengan pencahayaan kurang. Ternyata laser autofocus hanya cocok sampai jarak 50cm. Jadi untuk foto makro bagus, tapi untuk foto biasa tidak terlalu berpengaruh. Bagusnya ada fungsi manual yang dapat diutak atik.
  5. Banyak bloatware dari Asus, tapi untungnya bisa di-uninstall atau di-disable atau dikurangi konsumsi memorinya dengan autostart manager. Setelah dipangkas habis-habisan, rata-rata memori yang tersisa 1GB.

Dengan harga 3 jt pas, saya puas dengan HP ini.

Pengalaman Menggunakan Gojek Bandung

Update Juni 16: setelah beberapa menggunakan Gojek, menariknya semua sopir Gojek selalu menelepon sebelum datang. Berbeda dengan Uber yang paling hanya 20% yang menelepon.

Melengkapi review transportasi berbasis app saya untuk wilayah Bandung: Uber, GrabTaxi, BlueBird.  Saya akhirnya mencoba Gojek.  Agak terlambat menggunakan Gojek karena untuk UPI dan ITB motor tidak bisa masuk bebas, bahkan UPI lebih ketat, motor dosenpun tidak boleh masuk.  Lagipula saya lebih sering pergi berdua.

Kemarin akhirnya datang saat yang pas. Perlu ke acara resepsi pernikahan rekan dosen di Cimahi. Sebenarnya jaraknya sangat dekat, tapi repot kalau menggunakan mobil karena harus menembus perumahan orang, ditambah macet di daerah Cihanjuang. Jadi ojek paling tepat.

Sempat agak bingung saat buka app Gojek karena kok peta jadi kosong, ternyata saya belum login (saya sudah daftar lama). Sempat agak sulit memasukkan alamat tambahan. Bagusnya ada history lokasi, nantinya akan lebih gampang.   Karena jalan depan rumah saya sempit, biasaya Uber  saya pesan di depan jalan besar dekat rumah,  tapi dengan Gojek enaknya saya pesan langsung di depan rumah. Harga langsung keluar, lebih murah dibandingkan ojek biasa memang.

Tidak lama kemudian ada telepon dari sopir Gojek. Berbeda dengan Uber, sopir Gojek sepertinya orang lokal sehingga langsung paham daerah rumah saya, dan 5 menit kemudian dia sampai.  Sedangkan Uber, memerlukan kira-kira 20-30 menit. Susahnya, sopir Gojek  tidak menggunakan identitas seperti jaket atau helm khusus. Identitas wajah juga sulit dikenali karena menggunakan helm. Nomor plat motor juga tidak ada di app. Jadi ya menggunakan bahasa tubuh (kedip-kedip sambil anguk-anguk 🙂 ) Ini berbeda dengan sopir Gojek Jakarta yang menggunakan jaket dan helm hijau berlogo. Dapat dipahami karena sentimen anti Gojek kuat di Bandung dan saya juga tidak mau ikut dipukuli hehe. Saya diberi pinjaman helm, tapi tidak ada penutup rambut, sehingga helm agak bau. Bagi saya sih tidak masalah, tapi mungkin bagi penumpang  perempuan akan kurang nyaman.

Sampai di tempat tujuan dengan sangat cepat (kalau mobil setidaknya perlu 2 kali lipat waktunya). Karena baik saya dan sopir kurang paham dengan lokasi tujuan, sopir seringkali melihat-lihat HP untuk mengetahui arah. Ini berbahaya, lain kali biar saya saja yang menjadi navigator. Cuma apa aman pegang-pegang HP di motor?

Setelah sampai saya bayar langsung. Ini juga perbedaan Gojek dengan Uber yang menggunakan kartu kredit. Memang sekarang ada GojekPay, tapi saya baca banyak penolakan dari sopir Gojeknya. Memang Uber mulai dari kartu kredit ke cash sedangkan Gojek sebaliknya.

Beberapa menit setelah perjalanan selesai, ada notif dari app bahwa perjalanan sudah selesai dan ada permintaan untuk memberi rating sopir. Pulangnya saya juga menggunakan Gojek.  Kali ini sopirnya lebih ngebut. Mengingat badan saya yang lumayan gemuk sempat ngeri juga kalau sampai tergelincir saat belok. Ini kelemahan Gojek dibandingkan  Uber. Uber untuk dalam kota paling-paling mobil saling bergesekan tapi kita relatif aman. Kalau motor, sudah resiko tertabrak, lalu jatuh, lalu bisa terlindas pula. Tulang dan daging bukan tandingan metal dan aspal 🙁

Jadi kesimpulannnya Gojek punya keunggulan di kecepatan. Waktu tunggu dan waktu sampai tujuan jauh lebih rendah dibandingkan Uber. Gojek juga bisa menjangkau medan sempit dan sulit parkir. Kelemahan Gojek dibandingkan Uber ada di aspek kenyamanan dan keamanan. Pilih yang mana?  tergantung kondisi 🙂

Buku Digital: App Kindle dan Google Play Book

Dari kecil saya sangat suka buku. Buku novel “Lima Sekawan” pertama kali saya tamatkan waktu kelas 1 SD. Pengalaman yang berkesan adalah waktu kelas 2 atau 3 SD, bersama bapak diantar ke Gramedia Jl  Merdeka untuk beli buku (yap, toko buku Gramedia di Merdeka sudah ada dari tahun 80an). Lalu berburu buku bekas di Palasari supaya dapat buku banyak dengan harga murah 🙂  Saat saya sudah punya anakpun, setiap ke mall selalu disempatkan mampir ke toko buku.

Pertama kali saya mulai baca buku digital adalah saat sudah dapat membeli buku di Google Playbook Android.  Fitur yang paling saya suka adalah dapat melihat arti dari sebuah kata dengan gampang. Lalu dapat mengatur ukuran font, membaca buku tebal dengan satu tangan di kasur, dan melihat preview buku sebelum beli.  Lalu tidak perlu repot-repot ke toko buku, tidak perlu repot antri di kasir, dan *semua*  buku bisa muat di HP dan saya bawa kemanapun saya pergi 🙂  Tidak ada lagi lemari buku yang penuh sesak.  Kelemahannya, banyak buku bahasa Indonesia yang tidak ada, dan kalaupun ada harus di-zoom manual.  Dan memang kehilangan sensasi saat membuka halaman buku, terutama bau buku baru 🙂

Kelebihan lain buku digital adalah sinkronisasi antar device. Saya punya beberapa HP lama sehingga di rumah total ada 4 device Android.  Sekarang setiap mau baca, saya tinggal ambil HP/tablet  terdekat lalu langsung baca. Tidak perlu mengingat sampai halaman berapa, karena langsung disinkronisasi. Karena saya memang suka baca secara berpindah, dulu seringkali harus mencari buku yang terakhir dibaca ada dimana.

Setelah beberapa lama hanya menggunakan Google Play Book,  App Amazon Kindle yang ada di  Android mulai membuka layanan untuk warga Indonesia. Buku di Kindle lebih lengkap dibandingkan Google Play Book dan user interfacenya juga lebih nyaman menurut saya (gambar bawah, klik untuk memperbesar).

kindle3   kindle   kindle2

 

Ini perbandingannya dengan Google Play Book (klik untuk memperbesar)

playbook1   playbook2a   playbook2

 

Kelemahan Kindle adalah pembayaran harus dengan kartu kredit dan dalam dolar (kalau Play Book dalam rupiah), sehingga seringkali kaget saat lihat tagihan kartu kredit akibat kurs yang digunakan lebih tinggi daripada kurs normal. Kelemahan yang lain, promo di Kindle hanya untuk wilayah Amerika saja, sedangkan promo Play Book berlaku internasional.  Catatan: Kalau mau mendapat buku discount, bisa lihat bookbub.com disana ada promo harian untuk buku seharga 1-2 dolar, kadang dapat buku menarik juga 🙂

Baik Kindle maupun Play Book juga memberikan rekomendasi berdasarkan buku yang dibeli dan rating yang kita berikan pada buku.  Untuk ini, menurut saya Kindle lebih bagus memberikan rekomendasi, mungkin karena pilihan bukunya lebih banyak atau memang urusan buku adalah bisnis inti Amazon.

Untuk app buku Indonesia, alternatif terdekat adalah QBaca. Walaupun saat awal UI-nya sempat bermasalah, tapi setelah beberapa kali update sekarang sudah lebih baik. Ada buku-buku Balai Pustaka juga. Cuma judul buku masih sangat terbatas. Pembelian dilakukan dengan cara seperti beli pulsa, jadi masih belum sepraktis Play Book dan Kindle.

Beberapa bulan lalu saya mampir ke Gramedia dan untuk pertamakalinya tidak membeli buku. Agak tercenung, jangan-jangan cicit saya nanti akan jika melihat buku berbentuk kertas akan seperti kaset lagu sekarang.

Posted in app

Pengalaman Mencoba App My BlueBird

Update Okt 2016: Istri saya mencoba lagi app ini dan berbeda dengan pengalaman pertama, sekarang sopir bluebird nyasar. Bagusnya, seperti halnya uber, sekarang bisa melihat lokasi mobil yang dipesan, jadi ketahuan saat sopir nyasar. Setelah ditelepon dua kali tidak diangkat akhirnya terpaksa dibatalkan. Dugaan saya entah sopir tidak menggunakan app (masih via operator radio) atau sopirnya buta peta digital.

Update: Mei 2016, ada update besar-besaran aplikasi BlueBird.  Tampilannya modern, pendaftaran lancar (tidak ada lagi kasus nama cuma diberi 10 karakter). Posisi mobil Bluebird juga terlihat di peta; dan ada fasilitas bayar dengan voucher (katanya ada kartu kredit tapi saya tidak lihat dimasukkannya dimana). Nanti akan saya update lagi setelah saya coba pesan.

Ribut-ribut masalah Uber vs Bluebird yang menyebabkan demo besar-besaran membuat saya penasaran mencoba app BlueBird.  Nanti bisa dibandingkan dengan review saya tentang app Uber dan Grab Taxi. Dulu pernah coba app My BlueBird ini,  tapi langsung bermasalah dan saya uninstall, mudah-mudahan sekarang sudah berbeda.

Dibandingkan app Uber dan Grab, ada isu nasionalisme juga disini. BlueBird adalah perusahaan lokal jadi saya sangat berharap mereka dapat bersaing dengan app impor. Saya pribadi akan memilih Bluebird jika kualitas appnya sebanding dengan Uber.

OK sekarang mulai review. Saat daftar, user interfacenya kurang rapi dan perlu diupdate dengan standard sekarang. Tapi tidak terlalu jadi masalah bagi saya, karena  yang penting fungsi, UI itu hanya pelengkap saja. Tapi saya kaget karena untuk nama dibatasi maksimal 10 karakter. Ini membuat saya tidak dapat memasukkan nama lengkap. Sangat aneh, semua sistem saat ini ingin mempunyai data nama yang lengkap, mulai dari nama depan, nama tengah dan nama belakang (bahkan gelar), sedangkan ini kok sebaliknya. Proses selanjutnya (verifikasi no telp dengan SMS) lancar.

Saat saya mau pesan, saya heran kenapa peta di app ini hanya menunjuk ke Gedung Sate? ternyata GPS saya belum di-enable. Ini berbeda dengan Uber yang memberikan peringatan dan mewajibkan kita meng-enable GPS.  Lalu keheranan kedua adalah tidak ada informasi mobil taksi yang berada di sekitar kita. Mengingat jumlah armada Bluebird yang besar, sangat disayangkan fitur ini tidak ada. Ya sudah,  mungkin saat saya pesan nanti info posisi taksinya akan keluar.

Kemudian saya pesan. Bagusnya, ada opsi kalau kita mau ke bandara (kalau ke bandara memang urusan waktu jadi serius) dan ada batasan waktu minimal yang kita inginkan (default 10 menit). Mirip dengan GrabTaxi, keluar lokasi yang bisa dipilih. Bedanya, kalau GrabTaxi lebih fokus pada POI (Point of Interest) seperti restoran, maka Bluebird lebih fokus ke nama jalan. Saya pilih jalan dan.. ternyata saya harus memasukkan alamat lengkap (uh).  Apa gunanya GPS kalau harus  memasukkan alamat lengkap 🙁   Untuk isian alamat ada nomor rumah. Karena rumah saya menggunakan sistem blok, maka saya mau memasukkan blok dan nomor “Blok XX no XX” dan… aarghh tidak bisa! karena ternyata karakternya dibatasi lagi!  Saya tidak tahu apa yang dipikiran si pengembang yang pelit dengan jumlah karakter, apa mungkin mantan pengembang jaman DOS thn 90an dulu yang PC-nya cuma punya memori 640KB?  Untungnya informasi blok dapat dimasukkan ke field kedua (alamat tambahan).  Di field ke-3 ada isian untuk menambahkan keterangan tambahan. Saya masukkan restoran yang dekat rumah (tetap harus diketik). Selesai. Ada pilihan save sehingga tidak perlu mengetik lagi dikemudian hari (saya belum coba). Setelah pesan, ada tulisan mencari kendaraan, dan setelah refresh (kenapa harus ada menu refresh?) keluar nomor taksi dan nama sopir. Sempat terjadi force close, tapi saat dibuka kembali order tidak hilang.

Selanjutnya saya berharap dapat melihat posisi taksi yang bergerak mendekati kita. Tapi tidak, peta tetap kosong. Padahal ini fitur yang sangat penting. Karena terbiasa dengan Uber dan Grab yang lokasi taksinya dapat dimonitor di peta, menunggu taksi jadi proses yang menyiksa. Tidak ada fasilitas menghubungi sopir langsung baik via telp atau SMS. Semoga saja sopirnya tidak nyasar.  Untungnya 10 menit kemudian taksi datang. Nomor taksi cocok, saat saya masuk mobil dia tanya “Pak  Yudi?”. OK, setidaknya nama yang maksimal 10 karakter tersebut ada gunanya hehe (bagaimana kalau nama lebih dari 10 karakter? ya mungkin gunakan nama panggilan saja).

Fitur lain yang saya rasakan kurang adalah membayar dengan kartu kredit dan sharing perjalanan yang penting untuk istri yang berpergian sendiri.

Saya lirik sopir ternyata dia tidak menggunakan app.  Artinya  order saya disampaikan via radio. Pantas saja GPS jadi tidak relevan, alamat harus lengkap dan tidak ada fasilitas tracking taksi.  Jadi app My BlueBird ini sebenarnya hanya perpanjangan dari sistem order lewat telepon.  Saya jadi lebih paham masalahnya. Berbeda dengan Uber dan Grab yang app-nya menjadi inti penting dari perusahaan, di BlueBird app hanya pelengkap, dan proses bisnisnya sendiri tidak berubah atau memang tidak mau diubah.

IMHO, kalau saya jadi direktur BlueBird, akan saya buat devisi khusus app yang terpisah dengan divisi IT dan membuat ulang semuanya dari awal.  Perlu perombakan  total prosesnya dari ujung ke ujung.  Tidak hanya software, tapi juga proses bisnis termasuk SDM-nya.  Divisi ini bisa mengembangkan app tanpa harus terikat dengan sistem IT yang lama dan batasan-batasan lain.

Posted in app

Pengalaman Menggunakan Netflix Indonesia

Update Nov 16: Akhirnya Netflix menyediakan fasilitas download sehingga film dapat diputar offline 🙂 Ini bermanfaat untuk menonton film di pesawat misalnya. Tapi bagi saya yang menggunakan Indihome yang memblok Netflix, saya bisa download film menggunakan koneksi lain, lalu bisa ditonton saat di rumah. (Jika membuka Netflix dengan Indihome langsung masuk ke mode offline). Manfaat lain, nonton film tidak lagi patah-patah atau terputus di tengah jalan. Dan sekarang Netflix dapat ditonton berdua secara bersamaan walaupun hanya  menggunakan paket satu orang 🙂  Satu nonton dengan offline, yang lain online. Tapi seperti halnya Youtube, tidak semua film dapat di-download. Kalau kita mendonwload dengan VPN film luar wilayah Indonesia via VPN, saat dibuka dengan koneksi Indihome maka akan keluar pesan tidak bisa ditonton, jadi harus benar-bener koneksi internet diputuskan.

Update Okt 16:  Netflix sekarang relatif lancar dengan VPNGate, cuma jarang bisa mendapat lokasi Amerika. Paling sering Jepang. Tapi semakin lama pilihan film-nya juga tidak jauh berbeda kok antara US dengan wilayah lain. Cuma kalau wilayah Jepang, subtitlenya seringkali tidak ada yang bahasa Inggris, hanya bahasa Jepang. Kalau bisa cari yang Eropa atau Kanada. Sedangkan untuk streaming ke TV dengan Chromecast, saya menggunakan koneksi XL yang tidak memblok Netflix (tidak seperti Telkom!). Untuk satu film 2 jam kira-kira menghabiskan 1GB (saya punya kuota 12GB/bulan).  Pilihan film wilayah Indonesia kira-kira sama dengan Jepanglah.

Update Juni 16:  Berhasil menggunakan VPNgate+DnsCrypt tapi untuk wilayah kanada. Wilayah Amerika biasanya servernya penuh. VPNGate adalah proyek penelitian sebuah Univ di Jepang, dan server VPN-nya merupakan sumbangan. Jadi ketersediaan dan kecepatan servernya akan berubah-ubah dan harus dipilih secara manual. Sedangkan untuk Android, CloudVPN masih bisa digunakan, tapi hanya untuk wilayah Inggris (tapi ya itu pilihan filmnya jadi terbatas).  Karena update sistem blokir VPN, hampir semua bertumbangan termasuk ShibeFlix (belakangan pembuat ShibeFlix memposting bahwa dia angkat tangan).  Saya juga mencoba DNSCyrpt dan walaupun bisa masuk, saat menonton tetap error. Sepertinya Telkom memblok langsung (bukan via DNS). Alternatif Netflix:  App Kodi+plugin Exodus+trakt.tv.  Memang lebih ribet, tapi keuntungannya bisa memilih subtitle bahasa Indonesia dan dapat dicasting ke TV via chromecast. Kalau mau “legal” (atau tepatnya lebih tenang di hati hehe), pilih hanya film yang ada di Netflix atau film yang memang legal didistribusikan.

Update April 16: Update: Shibeflix sudah tutup —   Untuk Android, CloudVPN wilayah US seringkali gagal, kadang harus 5 kali coba baru berhasil, kalaupun  berhasil kadang lambat sekali.  Akhirnya saya downgrade Netflix kembali jadi satu screen saja karena istri masih menggunakan.

Update 29 Feb: Netflix mulai serius memblok VPN. BetterNet, CloudVPN yang tadinya bisa, sekarang tidak dapat digunakan. Siangnya VPN  di server DigitalOcean saya juga kena 🙁   Dari berbagai sumber VPN yang diblok adalah:  Hola, BetterNet, CloudVPN, Mediahint, Zenmate, AppVPN, ExpressVPN, Tunnelbear, Private Internet Access.  Sekarang saya sedang mencoba-coba alternatif. Berikut link yang mereview VPN yang katanya dapat menembus netflix: http://www.vpn-providers.net/best-netflix-vpn-smartdns.php. Karena Telkom menerapkan transparent DNS, solusi smart DNS seperti uFlix, Getflix tidak bisa digunakan.  Lalu Unotelly,  AirVPN dan Vpngate yang punya prospek bagus. Sebaiknya tunggu kira-kira 1-2  bulan sampai jelas mana yang jalan atau tidak.  TorGuard mungkin yang paling potensial, tapi perlu beli IP statik sehingga biayanya bisa mencapai sekitar $20 bulan (lebih dari Netflixnya sendiri).  Ada yang bilang bisa menembus blokir Indihome dengan DnsCrypt, cuma ya hanya bisa mengakses katalog Indonesia yang sangat terbatas. Update:  CloudVPN dapat digunakan lagi walau kadang error, sedangkan Betternet setelah sempat bisa akhirnya tewas lagi. Update: link yang membahas vpn yang dapat digunakan (baca juga comment-nya): http://www.lifehacker.com.au/2016/04/what-are-popular-vpn-services-doing-about-netflix-blocks/

Update 16 Feb: Setelah beberapa lama menggunakn VPN gratisan, akhirnya saya setup VPN sendiri dengan membuat VPS di DigitalOcean. Dibandingkan beli layanan VPN lain, buat VPN via Digital Ocean sama murahnya ($5/bulan) plus dapat VPS berlokasi di US yang bisa digunakan untuk banyak hal (misal buat web server). Setupnya juga sangat gampang, 5 menit beres, petunjuknya ada disini: http://paxinstruments.com/how-to-setup-a-vpn-in-china/      Enaknya keamanan lebih terjamin dibandingkan VPN gratisan, lebih cepat terhubung,  kecepatan stabil.  Karena saya pilih VPS yang berlokasi di US, pilihan film jadi maksimal. Sayangnya kecepatannya drop ke 2Mbps-5Mbps.   Saya yakin kalau membuat VPS yang berlokasi di Singapura akan dapat lebih cepat, sayangnya pilihan Netflix di Singapura juga terbatas 🙁

Sedangkan untuk menshare koneksi VPN agar Netflix dapat digunakan di Chromecast dapat dibaca disini: https://www.expressvpn.com/support/vpn-setup/share-vpn-connection-windows-manual/   Saya sudah coba, laptop dihubungkan dengan router Indihome dengan kabel lalu jadikan laptop tersebut virtual router. Berhasil membuat access point, tapi saat VPN (Betternet) dinyalakan internet tidak dapat digunakan. Nanti saya coba dengan VPN sendiri.

Update: baca-baca Kaskus, ada yang menganti firmware router dengan  firmware yang support DNScrypt. Tapi saya pribadi agak serem kalau sampai ganti firmware 😐

Update 28 Jan: Netflix diblok Indihome 🙁   Menurut saya karena Telkom takut Netflix akan mengerogoti proyek TV kabel mereka (UseeTV).  Tidak terlalu masalah karena saya biasanya memang menggunakan VPN, tapi blokir ini  membuat Chromecast tidak dapat digunakan untuk Netflix (kecuali tambah router yang support VPN). Mengenai VPN, VPN di Android yang terbaik menurut saya adalah CloudVPN. Bisa memilih wilayah, iklannya sedikit, gratis dan cepat.

Update: Upgrade ke 2 screens + HD.  Soalnya ternyata istri suka sekali nonton 🙂  Saya dan anak kadang harus antri dulu hehe, jadi sepadan untuk tambah 30rb dan naik jadi 2 screens (dua orang dapat nonton bersamaan).  Lagipula setelah menggunakan Netflix di TV (via Chromecast), kualitas non-HD ternyata terlihat berbeda dengan HD. Sedangkan kalau menggunakan tablet atau HP sih tidak akan masalah menggunakan non HD.

 

chromecast_netflix

Keterangan foto: Casting Netflix ke TV dengan Chromecast

Sayangnya saat menggunakan Chromecast+netflix  ke TV,  di tengah film sering harus load (buffering). Ini bukan masalah koneksi internet Indihomenya karena saya buka Chromecast+Youtube lancar tidak ada masalah dengan kualitas HD. Mungkin karena saya berlanganan Netflix yang versi HD? Dugaan saya, koneksi Netflix masih belum maksimal untuk wilayah Indonesia, berbeda dengan Youtube yang sudah lama ada,  dan (mungkin) mendapat perlakuan khusus dari ISP karena banyak sekali pelanggan yang menggunakan.  Ini ditambah dukungan infrakstruktur raksasa Google sebagai pemilik Youtube.

–End Update

Pagi ini terbangun dan mendapat email pemberitahuan bahwa Netflix sudah ada di Indonesia 🙂 Hore!  Ternyata Netflix membuka hampir ke semua negara, tadinya 60 melonjak drastis ke 130 negara.

Dengan Netflix kita membayar biaya tetap untuk streaming film/acara TV yang tidak terbatas. Film dapat ditonton di browser, HP/tablet, SmartTV XBOX, PS4 dan Chromecast. Memang beberapa judul tidak tersedia, terutama yang baru-baru, tapi tetap saja ini jadi alternatif bagus untuk menonton film legal.

Satu bulan pertama gratis (daftar tetap perlu kartu kredit, tapi jika batal sebelum satu bulan tidak bayar).  Ada tiga pilihan: 110rb, 140rb dan 170rb. Untuk yang termurah hanya dapat digunakan di satu screen, dan tidak mendukung HD. 140rb dapat menonton di 2 screen secara bersamaan dengan kualitas HD dan yang termahal (170rb) di 4 screen dengan Ultra HD. Setelah saya coba di TV dengan Chromecast, kualitas yang non HD sudah cukup kok. Cuma batasan satu screen sering buat tabrakan antara saya, istri dan anak hehe.

Cara mendaftarnya, isi email dan informasi kartu kredit. Lalu  profil pengguna, di profil ini kita bisa tambah profil anak, agar film dewasa tidak muncul pada pilihan anak. Dilanjutkan pilih 3 film untuk rekomendasi dan kita bisa mulai. Rekomendasi untuk tiap profil nantinya akan berbeda, ini bagus karena saya, istri dan anak punya minat yang beda untuk film. Netflix juga memperhatikan rating yang kita berikan, apa saja yang ditonton, apa yang ada di MyList untuk memberikan rekomendasi.

Saya baru coba nonton di browser dan HP,  belum ada subtitle bahasa Indonesia, tapi setidaknya ada subtitle bahasa Inggris (untuk tuna rungu, sehingga sangat detil).  Salah satu keluhan saya untuk Google Play Movie adalah ada beberapa film tidak memiliki subtitle bahasa Indonesia/Inggris.  Update: untuk subtitle bahasa Indonesia mungkin bisa ditambahkan menggunakan extension Chrome Super Netflix, cuma harus di PC/Mac dan menggunakan Chrome. Lalu harus cari manual file subtitle dan upload, tidak praktis.

Pilihan filmnya juga masih terbatas untuk wilayah Indonesia. Saat saya googling film terbaik yang ada di Netflix, ternyata 90% tidak tersedia di Netflix Indonesia. Ini juga terjadi di Google Play Movie sih, biasanya karena masalah lisensi film. Saya baca katanya mereka akan mengusahakan semua film tersedia global, tapi kurang yakin juga dalam waktu dekat. Update: Dengan VPN seperti Betternet, semua film jadi bisa diakses, cuma kadang lebih lambat untuk mulai. Lalu tetap saja tidak dapat menonton via Chromecast (karena Chromecast langsung terhubung dengan internet tanpa VPN). Perlu setup virtual router dulu yang menggunakan VPN?

Setelah coba app-nya, saya lebih suka interface Netflix ini daripada Google Play Movie, langsung bisa pilih dari rekomendasi atau berdasarkan genre. Genre juga lebih lengkap pilihannya, tersedia kategori seperti sci-fi sampai subkategori (fantasy sci-fi).   Saat menonton di HP tidak ada masalah dan lancar (mungkin karena menggunakan 4G?) Cuma kelemahannya dibandingkan Google Play Movie adalah tidak ada fasilitas download sehingga bisa menonton saat offline.

Posting ini akan saya update setelah saya coba-coba lebih dalam 🙂