Blog ditutup (pindah)

Isi blog ini akan dipindahkan secara bertahap ke yudiwbs.wordpress.com.

Saya menggunakan Qwords dan terlalu sering bermasalah.  Mungkin bisa saja sih pindah hosting, tapi saya pikir lebih aman dan lebih awet (bisa diakses bertahun2 kemudian)  jika menggunakan WordPress saja.

 

 

 

Tinta Hitam Luntur pada Printer HP GT 5810

Dua bulan yang lalu saya beli printer deskjet warna HP GT5810. Tertarik karena printer ini sudah dari pabrik menggunakan sistem botol jadi harusnya lebih murah tintanya. Kenapa pilih merk HP? karena saya sudah punya laser HP 400 yang memuaskan.

 

Masalah timbul saat saya mau mencetak foto di kertas foto glossy.  Saat disentuh jari, tintanya luntur!  Berdasarkan pengamatan lebih detil, ternyata hanya tinta hitam yang luntur. Setelah googling, ternyata ini hanya dialami oleh printer HP saja. Penyebabnya, untuk tinta hitam, HP menggunakan jenis matte ink, sedangkan untuk tinta warna yang lain menggunakan non-matte (supaya murah?).  Solusi: saat mencetak harus memilih jenis kertas “Photo Paper” bukan glossy, bukan matte.

Baris pertama diprint dengan memilih  jenis kertas photo paper sedangkan baris kedua dengan glossy. Baris pertama tidak luntur, sedangkan baris kedua luntur. Pada baris kedua kolom pertama, bisa dilihat sebagian sudah luntur karena saya ulas dengan jari. Setelah diulas, akan tertinggal hitam yang berbeda (lebih mirip abu-abu). Dapat dilihat juga hitam pada baris kedua lebih bagus karena lebih gelap sedangkan baris pertama agak abu-abu.

Jadi walaupun memilih jenis “photo paper” pada hasil cetak membuat tinta hitam tidak luntur,  tapi efeknya gambar terlihat kurang tajam sehingga lebih jelek (karena hitamnya bukan hitam, tapi lebih abu-abu).  Solusi lain mungkin dengan membeli kertas khusus dari HP (quick dry), tapi mahal: sekitar Rp.200rb untuk 50 lembar (itupun sepertinya susah dicari di Indonesia).

Kesimpulan? sebaiknya jangan beli printer HP untuk jenis deskjet warna.

Pengalaman Menggunakan Tokopedia

Sampai saat ini saya sudah sekitar 25 kali bertransaksi dengan Tokopedia dan saat ini belum pernah ada masalah dengan barang yang dibeli. Menurut saya Tokopedia ini paling baik user interfacenya dibandingkan layanan lain seperti BliBli, Lazada.  Baik app maupun webnya lebih bersih (tidak memaksakan banyak item dalam satu layar) dan punya fasilitas review produk maupun penjual.  Aliran proses dari pesan sampai bayar juga tidak membingungkan. Beberapa hal yang jadi patokan saya sebelum beli:

  1. Lihat reputasi toko (gold atau tidak, persentase transaksi sukses, rating).
  2. Lihat review produk. Cuma hati-hati, ada beberapa produk yang bagus pada awalnya tapi kemudian gampang rusak karena kualitasnya rendah. Tokopedia tidak memperbolehkan user mengupdate skor rating, walaupun review produk bisa diupdate.
  3. Lihat respon penjual saat diskusi produk. Semakin cepat semakin bagus. Kalau belum beli saja sudah malas menjawab, ya repot.  Dari diskusi ini juga dapat kita lihat apakah penjual tahu produk yang dijualnya.
  4. Cek produk serupa di internet, terutama Amazon. Banyak sekali produk di tokopedia yang palsu. Kita juga perlu realistis, tidak mungkin merk mentereng tapi harga murah. Tapi walaupun palsu karena harganya yang sangat murah dan kualitasnya lumayan, beli yang “palsu” juga kadang masih masuk akal. Asal bukan untuk hal-hal yang penting.
  5. Setelah kirim, cek resi di situs JNE/TIKI dst, terutama untuk kecocokan nama dan alamat. Ada beberapa kasus resi palsu (nama cocok, tapi alamat tidak). Jadi walaupun kita belum menerima, tapi oleh sistem sudah dianggap diterima.
  6. Urutkan barang berdasarkan penjualan, lalu harga. Ada produk yang sama tapi harganya beda jauh.

Pengalaman Menjual Mobil via OLX

Saya sudah dengar menjual mobil via OLX akan cepat, jadi penasaran untuk mencoba. Lagipula tidak dalam kondisi buru-buru, jadi saatnya untuk coba layanan ini.

Pasang iklan gratis, saya isi deskripsi dan upload foto-foto. Ternyata untuk deskripsi tidak boleh meletakkan no telp, email, website. Padahal saya punya posting di blog tentang mobil saya yang sangat detil sampai tiap service. Lalu untuk foto maksimal 6 buah dengan resolusinya rendah. Efeknya nanti banyak yang minta foto-foto yang lebih detil. Perlu 1-2 menit antara submit sampai iklan online, ternyata mereka melakukan moderasi dulu (ini bagus).

Tidak lama setelah pasang langsung masuk beberapa telepon dan sms, wah cepat sekali. Untungnya saya menggunakan nomor HP yang terpisah dengan nomor HP yang biasa saya gunakan.Lalu saat pasang, sebaiknya kita dalam kondisi tidak sibuk. Ternyata yang pertamakali bereaksi adalah para pedagang mobil. Enak sih ngomongnya (efisien), tapi mereka menawar dengan harga rendah, maklum untuk dijual lagi. Setelah lewat hari pertama baru mulai ada calon pengguna yang mengontak, tapi kebanyakan tanya berbagai hal, minta foto, tapi ujung-ujungnya ragu.  Tip yang lain, sebaiknya pasang iklan di hari Sabtu pagi atau Jumat siang, kebanyakan orang ingin melihat mobilnya pada hari libur. Tapi jangan terlalu serius juga, ada yang minta janjian ketemu kemudian membatalkan.

Mengenai resiko penipuan, hanya ada satu SMS yang mencurigakan, isinya langsung tertarik dan mau beli begitu saja. Dari yang saya baca, kasusnya adalah menggiring penjual ke ATM untuk ditipu disana (standard: disuruh cek saldo tapi ujung-ujungnya transfer uang ke penipu). Saya tidak balas SMSnya, padahal menarik juga kalau dilanjutkan ya.

Karena ada teman kakak ipar saya yang mau beli (tidak via OLX) dan telah memberikan DP maka iklan saya cabut. Gampang, hanya dengan satu klik, iklan akan non aktif.  Sialnya, orang tersebut setelah satu bulan membatalkan karena kreditnya tidak disetujui 🙁   Sudah ditunggu sebulan, eh tidak jadi juga.  Pelajaran lain: untuk pemberi DP sebaiknya diberi batas waktu maks 2 hari saja untuk melunasi, lebih dari itu perlu dipotong DP-nya, karena merugikan juga sih.

Karena transaksi gagal, maka saya perlu memasang lagi iklan OLX. Tadinya saya pikir tinggal diaktifkan, ternyata harus bayar 25rb.  OK tidak masalah, daripada harus saya upload ulang. Ternyata beda dengan tokopedia, OLX ini tidak bisa topup dengan transfer internet banking BNI atau Niaga. Harus menggunakan ATM Bersama atau kalau yang online dengan Mandiri atau BCA. Setelah dilihat ternyata ada fasilitas kartu kredit via Veritrans, sempat ragu (selama ini tidak pernah menggunakan kartu kredit untuk perusahaan web lokal) tapi karena istri saya pernah bekerjasama dengan Veritrans, dan menurutnya aman, maka saya lanjutkan. Transaksi kartu kredit via veritrans ini bagusnya meminta pin dari no HP saya.

Setelah topup dan bayar, iklan terpasang, saya edit harga sehingga turun cukup signifikan karena sudah mulai ingin cepat terjual. Mobil juga sering menggangur tidak dipanaskan, takutnya malah tambah rusak.  Tidak lama ada telepon, tapi yang ini ingin melihat (pembeli serius biasanya langsung ingin melihat). Setengah jam kemudian dia datang, dan setelah OK (harga turun lagi 2 jt deh) langsung kita bertransaksi di bank.  Jam 7 pagi pasang, jam 11 siang transaksi selesai. Memang cepat karena harga sudah turun dan dia pedagang.

Menurut saya user interface OLX ini patut ditiru, sederhana, efektif, saat proses pemasangan iklan cepat sekali. Cuma mungkin karena iklan sangat mudah diakses, banyak calon pembeli yang kurang serius, walaupun asyik juga melayani pertanyaan-pertanyaan calon pembeli hehe.

Pengalaman menggunakan Asus Zenfone Selfie ZD551KL

Setelah Nexus 5 saya akhirnya tewas (terkena air laut, bisa diperbaiki tapi akhirnya satu demi satu komponennya rusak), saya mulai mencari-cari alternatif.  Mengalami tombol power nexus 5 yang bermasalah dan faktor lain, saya tidak mau beli lagi yang terlalu mahal. Percuma juga.

Kriteria yang saya perlukan:

  1. Dual SIM 4G yang support freq 900 dan 1800
  2. Kamera lumayan.  Jangan sampai seperti Android One yang akhirnya kameranya benar-benar tidak bisa digunakan.
  3. Memori >2GB
  4. Ukuran layar besar
  5. Harga semurah mungkin. Tidak terlalu terkesan dengan LG G3 istri dan Nexus5 yang relatif mahal tapi ternyata punya masalah juga.

Dari semua alternatif, saya akhirnya pilih Asus Zenfone Selfie ZD551KL. Padahal saya jarang sekali selfie hehe. Cuma memang ini yang memenuhi kriteria yang saya inginkan 🙂  Untungnya ada warna hitam, sempat khawatir harus beli yang pink.

Setelah beberapa lama menggunakan, menurut saya kualitasnya diatas ekspektasi:

  1. Setelah 6 bulan menggunakan. Fitur batere Asus ini yang paling top! Lebih bagus daripada semua HP yang saya gunakan. Dengan 3000mAh ternyata jauh awet dari dugaan saya. Saya tidak pernah kehabisan daya di siang hari walaupun digunakan habis-habisan (seperti biasa, malam saat saya tidur dicharge). Removable juga baterenya. Asus menyediakan mobile manager app yang membuat app tidak dapat berjalan di background. Ini membuat kinerja jadi bagus (lebih cepat, lebih irit memori dan batere).
  2. Kualitas layar yang bagus: besar, resolusi bagus dan terang. Saya menggunakan app Splendid bawaan dari Asus agar warna di layar lebih sesuai.
  3. Gorilla glass 4 + oleophobic sangat bermanfaat. Layar jauh lebih bersih dan belum ada baret sampai sekarang.
  4. Kamera lumayan. Agak dibawah espektasi sih, terutama untuk foto dengan pencahayaan kurang. Ternyata laser autofocus hanya cocok sampai jarak 50cm. Jadi untuk foto makro bagus, tapi untuk foto biasa tidak terlalu berpengaruh. Bagusnya ada fungsi manual yang dapat diutak atik.
  5. Banyak bloatware dari Asus, tapi untungnya bisa di-uninstall atau di-disable atau dikurangi konsumsi memorinya dengan autostart manager. Setelah dipangkas habis-habisan, rata-rata memori yang tersisa 1GB.

Dengan harga 3 jt pas, saya puas dengan HP ini.

Pengalaman Menggunakan Gojek Bandung

Update Juni 16: setelah beberapa menggunakan Gojek, menariknya semua sopir Gojek selalu menelepon sebelum datang. Berbeda dengan Uber yang paling hanya 20% yang menelepon.

Melengkapi review transportasi berbasis app saya untuk wilayah Bandung: Uber, GrabTaxi, BlueBird.  Saya akhirnya mencoba Gojek.  Agak terlambat menggunakan Gojek karena untuk UPI dan ITB motor tidak bisa masuk bebas, bahkan UPI lebih ketat, motor dosenpun tidak boleh masuk.  Lagipula saya lebih sering pergi berdua.

Kemarin akhirnya datang saat yang pas. Perlu ke acara resepsi pernikahan rekan dosen di Cimahi. Sebenarnya jaraknya sangat dekat, tapi repot kalau menggunakan mobil karena harus menembus perumahan orang, ditambah macet di daerah Cihanjuang. Jadi ojek paling tepat.

Sempat agak bingung saat buka app Gojek karena kok peta jadi kosong, ternyata saya belum login (saya sudah daftar lama). Sempat agak sulit memasukkan alamat tambahan. Bagusnya ada history lokasi, nantinya akan lebih gampang.   Karena jalan depan rumah saya sempit, biasaya Uber  saya pesan di depan jalan besar dekat rumah,  tapi dengan Gojek enaknya saya pesan langsung di depan rumah. Harga langsung keluar, lebih murah dibandingkan ojek biasa memang.

Tidak lama kemudian ada telepon dari sopir Gojek. Berbeda dengan Uber, sopir Gojek sepertinya orang lokal sehingga langsung paham daerah rumah saya, dan 5 menit kemudian dia sampai.  Sedangkan Uber, memerlukan kira-kira 20-30 menit. Susahnya, sopir Gojek  tidak menggunakan identitas seperti jaket atau helm khusus. Identitas wajah juga sulit dikenali karena menggunakan helm. Nomor plat motor juga tidak ada di app. Jadi ya menggunakan bahasa tubuh (kedip-kedip sambil anguk-anguk 🙂 ) Ini berbeda dengan sopir Gojek Jakarta yang menggunakan jaket dan helm hijau berlogo. Dapat dipahami karena sentimen anti Gojek kuat di Bandung dan saya juga tidak mau ikut dipukuli hehe. Saya diberi pinjaman helm, tapi tidak ada penutup rambut, sehingga helm agak bau. Bagi saya sih tidak masalah, tapi mungkin bagi penumpang  perempuan akan kurang nyaman.

Sampai di tempat tujuan dengan sangat cepat (kalau mobil setidaknya perlu 2 kali lipat waktunya). Karena baik saya dan sopir kurang paham dengan lokasi tujuan, sopir seringkali melihat-lihat HP untuk mengetahui arah. Ini berbahaya, lain kali biar saya saja yang menjadi navigator. Cuma apa aman pegang-pegang HP di motor?

Setelah sampai saya bayar langsung. Ini juga perbedaan Gojek dengan Uber yang menggunakan kartu kredit. Memang sekarang ada GojekPay, tapi saya baca banyak penolakan dari sopir Gojeknya. Memang Uber mulai dari kartu kredit ke cash sedangkan Gojek sebaliknya.

Beberapa menit setelah perjalanan selesai, ada notif dari app bahwa perjalanan sudah selesai dan ada permintaan untuk memberi rating sopir. Pulangnya saya juga menggunakan Gojek.  Kali ini sopirnya lebih ngebut. Mengingat badan saya yang lumayan gemuk sempat ngeri juga kalau sampai tergelincir saat belok. Ini kelemahan Gojek dibandingkan  Uber. Uber untuk dalam kota paling-paling mobil saling bergesekan tapi kita relatif aman. Kalau motor, sudah resiko tertabrak, lalu jatuh, lalu bisa terlindas pula. Tulang dan daging bukan tandingan metal dan aspal 🙁

Jadi kesimpulannnya Gojek punya keunggulan di kecepatan. Waktu tunggu dan waktu sampai tujuan jauh lebih rendah dibandingkan Uber. Gojek juga bisa menjangkau medan sempit dan sulit parkir. Kelemahan Gojek dibandingkan Uber ada di aspek kenyamanan dan keamanan. Pilih yang mana?  tergantung kondisi 🙂

Pengalaman Menggunakan Netflix Indonesia

Update Nov 16: Akhirnya Netflix menyediakan fasilitas download sehingga film dapat diputar offline 🙂 Ini bermanfaat untuk menonton film di pesawat misalnya. Tapi bagi saya yang menggunakan Indihome yang memblok Netflix, saya bisa download film menggunakan koneksi lain, lalu bisa ditonton saat di rumah. (Jika membuka Netflix dengan Indihome langsung masuk ke mode offline). Manfaat lain, nonton film tidak lagi patah-patah atau terputus di tengah jalan. Dan sekarang Netflix dapat ditonton berdua secara bersamaan walaupun hanya  menggunakan paket satu orang 🙂  Satu nonton dengan offline, yang lain online. Tapi seperti halnya Youtube, tidak semua film dapat di-download. Kalau kita mendonwload dengan VPN film luar wilayah Indonesia via VPN, saat dibuka dengan koneksi Indihome maka akan keluar pesan tidak bisa ditonton, jadi harus benar-bener koneksi internet diputuskan.

Update Okt 16:  Netflix sekarang relatif lancar dengan VPNGate, cuma jarang bisa mendapat lokasi Amerika. Paling sering Jepang. Tapi semakin lama pilihan film-nya juga tidak jauh berbeda kok antara US dengan wilayah lain. Cuma kalau wilayah Jepang, subtitlenya seringkali tidak ada yang bahasa Inggris, hanya bahasa Jepang. Kalau bisa cari yang Eropa atau Kanada. Sedangkan untuk streaming ke TV dengan Chromecast, saya menggunakan koneksi XL yang tidak memblok Netflix (tidak seperti Telkom!). Untuk satu film 2 jam kira-kira menghabiskan 1GB (saya punya kuota 12GB/bulan).  Pilihan film wilayah Indonesia kira-kira sama dengan Jepanglah.

Update Juni 16:  Berhasil menggunakan VPNgate+DnsCrypt tapi untuk wilayah kanada. Wilayah Amerika biasanya servernya penuh. VPNGate adalah proyek penelitian sebuah Univ di Jepang, dan server VPN-nya merupakan sumbangan. Jadi ketersediaan dan kecepatan servernya akan berubah-ubah dan harus dipilih secara manual. Sedangkan untuk Android, CloudVPN masih bisa digunakan, tapi hanya untuk wilayah Inggris (tapi ya itu pilihan filmnya jadi terbatas).  Karena update sistem blokir VPN, hampir semua bertumbangan termasuk ShibeFlix (belakangan pembuat ShibeFlix memposting bahwa dia angkat tangan).  Saya juga mencoba DNSCyrpt dan walaupun bisa masuk, saat menonton tetap error. Sepertinya Telkom memblok langsung (bukan via DNS). Alternatif Netflix:  App Kodi+plugin Exodus+trakt.tv.  Memang lebih ribet, tapi keuntungannya bisa memilih subtitle bahasa Indonesia dan dapat dicasting ke TV via chromecast. Kalau mau “legal” (atau tepatnya lebih tenang di hati hehe), pilih hanya film yang ada di Netflix atau film yang memang legal didistribusikan.

Update April 16: Update: Shibeflix sudah tutup —   Untuk Android, CloudVPN wilayah US seringkali gagal, kadang harus 5 kali coba baru berhasil, kalaupun  berhasil kadang lambat sekali.  Akhirnya saya downgrade Netflix kembali jadi satu screen saja karena istri masih menggunakan.

Update 29 Feb: Netflix mulai serius memblok VPN. BetterNet, CloudVPN yang tadinya bisa, sekarang tidak dapat digunakan. Siangnya VPN  di server DigitalOcean saya juga kena 🙁   Dari berbagai sumber VPN yang diblok adalah:  Hola, BetterNet, CloudVPN, Mediahint, Zenmate, AppVPN, ExpressVPN, Tunnelbear, Private Internet Access.  Sekarang saya sedang mencoba-coba alternatif. Berikut link yang mereview VPN yang katanya dapat menembus netflix: http://www.vpn-providers.net/best-netflix-vpn-smartdns.php. Karena Telkom menerapkan transparent DNS, solusi smart DNS seperti uFlix, Getflix tidak bisa digunakan.  Lalu Unotelly,  AirVPN dan Vpngate yang punya prospek bagus. Sebaiknya tunggu kira-kira 1-2  bulan sampai jelas mana yang jalan atau tidak.  TorGuard mungkin yang paling potensial, tapi perlu beli IP statik sehingga biayanya bisa mencapai sekitar $20 bulan (lebih dari Netflixnya sendiri).  Ada yang bilang bisa menembus blokir Indihome dengan DnsCrypt, cuma ya hanya bisa mengakses katalog Indonesia yang sangat terbatas. Update:  CloudVPN dapat digunakan lagi walau kadang error, sedangkan Betternet setelah sempat bisa akhirnya tewas lagi. Update: link yang membahas vpn yang dapat digunakan (baca juga comment-nya): http://www.lifehacker.com.au/2016/04/what-are-popular-vpn-services-doing-about-netflix-blocks/

Update 16 Feb: Setelah beberapa lama menggunakn VPN gratisan, akhirnya saya setup VPN sendiri dengan membuat VPS di DigitalOcean. Dibandingkan beli layanan VPN lain, buat VPN via Digital Ocean sama murahnya ($5/bulan) plus dapat VPS berlokasi di US yang bisa digunakan untuk banyak hal (misal buat web server). Setupnya juga sangat gampang, 5 menit beres, petunjuknya ada disini: http://paxinstruments.com/how-to-setup-a-vpn-in-china/      Enaknya keamanan lebih terjamin dibandingkan VPN gratisan, lebih cepat terhubung,  kecepatan stabil.  Karena saya pilih VPS yang berlokasi di US, pilihan film jadi maksimal. Sayangnya kecepatannya drop ke 2Mbps-5Mbps.   Saya yakin kalau membuat VPS yang berlokasi di Singapura akan dapat lebih cepat, sayangnya pilihan Netflix di Singapura juga terbatas 🙁

Sedangkan untuk menshare koneksi VPN agar Netflix dapat digunakan di Chromecast dapat dibaca disini: https://www.expressvpn.com/support/vpn-setup/share-vpn-connection-windows-manual/   Saya sudah coba, laptop dihubungkan dengan router Indihome dengan kabel lalu jadikan laptop tersebut virtual router. Berhasil membuat access point, tapi saat VPN (Betternet) dinyalakan internet tidak dapat digunakan. Nanti saya coba dengan VPN sendiri.

Update: baca-baca Kaskus, ada yang menganti firmware router dengan  firmware yang support DNScrypt. Tapi saya pribadi agak serem kalau sampai ganti firmware 😐

Update 28 Jan: Netflix diblok Indihome 🙁   Menurut saya karena Telkom takut Netflix akan mengerogoti proyek TV kabel mereka (UseeTV).  Tidak terlalu masalah karena saya biasanya memang menggunakan VPN, tapi blokir ini  membuat Chromecast tidak dapat digunakan untuk Netflix (kecuali tambah router yang support VPN). Mengenai VPN, VPN di Android yang terbaik menurut saya adalah CloudVPN. Bisa memilih wilayah, iklannya sedikit, gratis dan cepat.

Update: Upgrade ke 2 screens + HD.  Soalnya ternyata istri suka sekali nonton 🙂  Saya dan anak kadang harus antri dulu hehe, jadi sepadan untuk tambah 30rb dan naik jadi 2 screens (dua orang dapat nonton bersamaan).  Lagipula setelah menggunakan Netflix di TV (via Chromecast), kualitas non-HD ternyata terlihat berbeda dengan HD. Sedangkan kalau menggunakan tablet atau HP sih tidak akan masalah menggunakan non HD.

 

chromecast_netflix

Keterangan foto: Casting Netflix ke TV dengan Chromecast

Sayangnya saat menggunakan Chromecast+netflix  ke TV,  di tengah film sering harus load (buffering). Ini bukan masalah koneksi internet Indihomenya karena saya buka Chromecast+Youtube lancar tidak ada masalah dengan kualitas HD. Mungkin karena saya berlanganan Netflix yang versi HD? Dugaan saya, koneksi Netflix masih belum maksimal untuk wilayah Indonesia, berbeda dengan Youtube yang sudah lama ada,  dan (mungkin) mendapat perlakuan khusus dari ISP karena banyak sekali pelanggan yang menggunakan.  Ini ditambah dukungan infrakstruktur raksasa Google sebagai pemilik Youtube.

–End Update

Pagi ini terbangun dan mendapat email pemberitahuan bahwa Netflix sudah ada di Indonesia 🙂 Hore!  Ternyata Netflix membuka hampir ke semua negara, tadinya 60 melonjak drastis ke 130 negara.

Dengan Netflix kita membayar biaya tetap untuk streaming film/acara TV yang tidak terbatas. Film dapat ditonton di browser, HP/tablet, SmartTV XBOX, PS4 dan Chromecast. Memang beberapa judul tidak tersedia, terutama yang baru-baru, tapi tetap saja ini jadi alternatif bagus untuk menonton film legal.

Satu bulan pertama gratis (daftar tetap perlu kartu kredit, tapi jika batal sebelum satu bulan tidak bayar).  Ada tiga pilihan: 110rb, 140rb dan 170rb. Untuk yang termurah hanya dapat digunakan di satu screen, dan tidak mendukung HD. 140rb dapat menonton di 2 screen secara bersamaan dengan kualitas HD dan yang termahal (170rb) di 4 screen dengan Ultra HD. Setelah saya coba di TV dengan Chromecast, kualitas yang non HD sudah cukup kok. Cuma batasan satu screen sering buat tabrakan antara saya, istri dan anak hehe.

Cara mendaftarnya, isi email dan informasi kartu kredit. Lalu  profil pengguna, di profil ini kita bisa tambah profil anak, agar film dewasa tidak muncul pada pilihan anak. Dilanjutkan pilih 3 film untuk rekomendasi dan kita bisa mulai. Rekomendasi untuk tiap profil nantinya akan berbeda, ini bagus karena saya, istri dan anak punya minat yang beda untuk film. Netflix juga memperhatikan rating yang kita berikan, apa saja yang ditonton, apa yang ada di MyList untuk memberikan rekomendasi.

Saya baru coba nonton di browser dan HP,  belum ada subtitle bahasa Indonesia, tapi setidaknya ada subtitle bahasa Inggris (untuk tuna rungu, sehingga sangat detil).  Salah satu keluhan saya untuk Google Play Movie adalah ada beberapa film tidak memiliki subtitle bahasa Indonesia/Inggris.  Update: untuk subtitle bahasa Indonesia mungkin bisa ditambahkan menggunakan extension Chrome Super Netflix, cuma harus di PC/Mac dan menggunakan Chrome. Lalu harus cari manual file subtitle dan upload, tidak praktis.

Pilihan filmnya juga masih terbatas untuk wilayah Indonesia. Saat saya googling film terbaik yang ada di Netflix, ternyata 90% tidak tersedia di Netflix Indonesia. Ini juga terjadi di Google Play Movie sih, biasanya karena masalah lisensi film. Saya baca katanya mereka akan mengusahakan semua film tersedia global, tapi kurang yakin juga dalam waktu dekat. Update: Dengan VPN seperti Betternet, semua film jadi bisa diakses, cuma kadang lebih lambat untuk mulai. Lalu tetap saja tidak dapat menonton via Chromecast (karena Chromecast langsung terhubung dengan internet tanpa VPN). Perlu setup virtual router dulu yang menggunakan VPN?

Setelah coba app-nya, saya lebih suka interface Netflix ini daripada Google Play Movie, langsung bisa pilih dari rekomendasi atau berdasarkan genre. Genre juga lebih lengkap pilihannya, tersedia kategori seperti sci-fi sampai subkategori (fantasy sci-fi).   Saat menonton di HP tidak ada masalah dan lancar (mungkin karena menggunakan 4G?) Cuma kelemahannya dibandingkan Google Play Movie adalah tidak ada fasilitas download sehingga bisa menonton saat offline.

Posting ini akan saya update setelah saya coba-coba lebih dalam 🙂

Perbandingan Dell 14-7447 dengan Asus X450J

Update: batere Asus X450J  agak mengecewakan, dengan opsi Power Saver dan hanya digunakan  untuk mengetik tanpa internet, batere hanya tahan sekitar 3 jam atau sekitar separuhnya dari Dell 14-7447.

Laptop lama saya sudah mulai kesulitan untuk digunakan sehari-hari.   Membuat program dengan Java, berurusan dengan data yang besar, browser yang semakin rakus membuat laptop semakin keteteran. Ditambah batere yang sudah mati, lengkap sudah penderitaan 🙂

Beruntung istri dapat laptop Dell 14-7447 dari proyek penelitiannya. Karena dia masih punya laptop juga, maka saya culik eh pinjam hehe.  Tapi lalu istri juga mendapat kerjaan yang memerlukan proses berat ditambah laptop ini akan  dibawa ke Palembang, ya sudah [terpaksa] beli saja.

 

dell_147447_asus_x450j

Keterangan gambar:  Asus X450J (depan) dan Dell 14-7447

Spesifikasi minimal yang saya perlukan adalah prosesor  i7 dan memori minimal 8GB tapi kalau bisa lebih.  Setelah cari online, sepertinya hanya Dell yang memenuhi syarat tersebut dan jenisnya sama persis dengan punya istri. Sayangnya bagi saya harganya masih terlalu mahal, di kisaran 14jt (ingat istri dapat laptop dari penelitian, jadi tidak terasa hehe), tapi apa boleh buat.

Berbekal info tersebut, kami mampir ke BEC, iseng-iseng saya lihat laptop Asus X450JB, ternyata prosesornya sudah cocok, tinggal memori (default yang terpasang hanya 4GB). Harganya juga relatif jauh lebih murah dibandingkan Dell, 9.4jt. Saya tanya ke pegawainya, ternyata memori bisa diupgrade ke 16GB!  Yang 4GB dicopot, diganti dengan dua keping 8GB. Tukar tambah memori ini membutuhkan 1.1jt. Jadi total 10.5jt, tetap masuk akal.

Rasanya menggunakan memori 16GB? bisa dilihat pada gambar bawah, memori saat Windows dimulai.  Saat browser, IntelliJ dijalankanpun penggunaan memori tidak pernah melebihi 50%.

memori

Lalu apa kelebihan Dell 14-7447 dibandingkan Asus X450J? Pertama, GPU Dell adalah GTX 950M sedangkan Asus 940M, memang lebih bagus untuk main game, tapi karena saya hanya main CS-GO saja, perbedaaannya tidak terlalu terlihat. Anak saya melaporkan untuk game Dotta, dengan Dell bisa dapat 100 fps sedangkan Asus hanya 70fps saja. Kemudian layar Dell berjenis matte yang tidak memantul, sangat enak kalau digunakan di luar ruangan. Dell juga lebih hening kipasnya. Warna yang merah menyala juga lebih menarik. Batere juga lebih lama 45mWH vs 42mWH, atau sekitar 5 jam vs  3 jam (selisih kapasitas tidak jauh tapi efeknya kok besar, mungkin power management Dell lebih bagus?). Windows sudah tersedia juga.

Kelebihan Asus X450JB?  Nomor satu adalah harga 🙂  Selisih 4jt tapi memori bertambah dari 8GB ke 16GB dengan prosesor sama.  Garansi Asus juga lebih panjang, 2thn vs 1thn. Keyboard menurut saya lebih nyaman. Asus memiliki VGA port selain HDMI, yang penting bagi dosen yang sering presentasi.  Bloatware Asus juga lebih sedikit. Dell memiliki banyak program bawaan yang tidak bisa di-uninstall.

Kesimpulannya, bagi saya Asus X450J yang diupgrade memorinya sudah paling optimal berdasarkan spesifikasi dan harga.

Alternatif Internet Fiber Optic selain Indihome di Bandung

Update Nov 2017: Hore, dapat penawaran dari MNC.  MNC sudah masuk daerah rumah saya 🙂  Sekilas harganya relatif sama dengan Indihome, tapi ada promo gratis ongkos pasang dan potongan harga 50% selama 6 bulan.  MNC juga menawarkan kecepatan upload yang sama dengan download (Indihome hanya 20%  saja). Untuk sekarang belum tertarik karena Indihome masih sangat reliable, tapi senang punya alternatif lain 🙂

mnc

Update Feb 2016: Blokir Indihome terhadap Netflix dan pemberlakuan FUP (pengurangan kecepatan setelah mencapai batas tertentu) membuktikan kecemasan saya. Semoga alternatif Indihome bisa lebih cepat menjangkau daerah rumah 😐

Bagi saya internet sangat penting, pertama kali saya langganan internet di Bandung sekitar tahun 1998 saat saya mahasiswa S1. Masih dialup modem dengan Centrin sebagai ISP. Pulsa telepon dibayar orang tua sedangkan Centrin saya yang bayar dari uang mengerjakan proyek-proyek. Dilanjutkan telkomnet instant, GPRS Indosat (25 rb/bulan), flexy, tri, simpati dsb tidak terhitung lagi. Terakhir saya menggunakan 4G dari tiga operator dan akhirnya triple play Indihome.  Setelah menggunakan Indihome saya pikir akan sulit sekali kembali ke masa internet berkuota. Oleh karena itu penting mencari informasi alternatif lain. Indihome sampai saat ini masih bagus dan stabil, tapi tetap harus berjaga-jaga karena ada beberapa kejadian yang sempat membuat khawatir (sudah saya tulis di posting tentang Indihome). Dari sisi jangkauan memang sepertinya tidak ada yang dapat mengalahkan Indihome karena mereka memanfaatkan tiang-tiang telepon Telkom yang sudah lama ada.

Setelah mencari-cari, beberapa alternatif untuk Bandung adalah (update Okt 2016):

    1. Biznet home,  harga 240rb / 25Mbps. Cakupan di Bandung cukup luas (tip: cari dengan kode pos). Untuk rumah saya,  jarak terdekat dengan jalan yang tercover adalah sekitar 500m.  Belum pernah kontak apakah bisa menarik kabel sejauh itu. Ada kantornya di PVJ (depan Carrefour).
    2. Firstmedia Fastnet.  Harganya 300 rb/10 Mbps, termasuk TV kabel.   Cakupan Firstmedia di Bandung tidak bisa dicek langsung tapi bisa melalui area di form pendaftaranya (gambar bawah). Untuk daerah saya, ada di area Sariwangi, sayangnya hanya sampai Blok 17 (saya blok 23).  Harusnya Sariwangi itu dibawah Sarijadi, bukan kebalik, kode posnya juga salah. Tapi ini prospeknya bagus, karena eksplisit masuk ke perumnas Sarijadi.
    3. CBN. Harga 300rb untuk 15Mbps, kecepatan upload sama dengan download. Pilihan paketnya  jelas dan transparan. Coverage di Bandung juga jelas dengan peta (gambar bawah, lagi-lagi wilayah rumah saya belum masuk).ScreenHunter_157 Dec. 12 17.29
    4. MNC   harga 350 untuk 10Mbps. Lokasi cakupan tidak jelas, harus daftar dulu dengan memasukkan alamat, jika tidak tercover maka akan keluar pesan.  Yang menarik dari MNC adalah kecepatan upload ditulis eksplisit dan sama dengan download. Sebagai perbandingan, Indihome downloadnya mencapai 10Mbps tapi upload hanya 2 Mbps.
    5. Update Feb 2016: Indosat GIG, kecepatannya 15  sampai 1Giga (menarik yang 1Gbps, harganya berapa ya hehe). Di Bandung hanya tersedia untuk perumahan Cherry Field Buah Batu. Mungkin memang mencari tempat yang belum tercover Indihome, terutama apartemen.
    6. Megavision/starnet. Ini ISP aneh, katanya ada yang pakai dan ada yang share foto promonya. Tapi di websitenya sangat minim info. Tidak ada harga, tidak ada informasi coverage  dan paket yang tercepat hanya 5Mbps. Dugaan saya umur ISP ini tidak akan lama lagi.