Grabtaxi di Bandung

Update Mei 2016: Pengalaman saya menggunakan Gojek

Update Maret 2016:  Pengalaman saya menggunakan app Bluebird.

Lanjutan dari posting pengalaman menggunakan Uber

Update Mei 16: GrabCar sudah ada di Bandung (gambar bawah). Tapi masih sedikit sepertinya, belum saya coba. User interface juga lebih baik, sekarang peta flat dan sudah menunjuk ke lokasi yang memang ada dekat rumah.

grab-car

Update Mar 16: selain Taksi Cipaganti, Ekspress sekarang sudah ada taksi Gemah Ripah yang menggunakan Grabtaxi. Katanya memang sopir gemahripah masih jarang yang menggunakan ini.

Saya sudah dengar grabtaxi dari lama, cuma setiap kali install, belum ada taksi yang tersedia di Bandung. Hari ini, iseng istri menginstall dan sudah ada taksinya! 🙂   Masih sedikit taksi yang tersedia tapi biasanya nanti akan banyak juga. Tampilan peta-nya dimiringkan, saya sebenarnya lebih suka yang datar 2D saja. Lokasi pickup otomatis disesuaikan ke tempat-tempat yang umum seperti restoran.  Di situs grabtaxi.com, Bandung belum masuk. Saat saya tanya via Twitter tidak ada jawaban, ini berbeda dengan Twitter Uber yang lebih responsif. Ya sudah, langsung coba saja.

Istri akhirnya mencoba grabtaxi. Percobaan pertama dari rumah gagal, masalahnya grabtaxi mewajibkan lokasi pickup yang berlabel. Mungkin kalau tempatnya populer tidak masalah, tapi kalau perumahan?  Seperti contoh (gambar bawah), tidak ada yang namanya Pondok Seafood Sarijadi di sekitar rumah saya. Seingat saya ini sudah lama tutup.  Jadi sebelum pesan kita harus bergerak ke tempat yang ‘populer’. Tapi tempat makan yang besar di sekitar rumah kami justru malah tidak ada di GrabTaxi :(.

 

grabtaxi

Percobaan kedua dari kampus ITB. Untuk yang ini berhasil, pada lokasi pickup tersedia “Teknik Informatika”.  Setelah memasukkan tujuan, langsung muncul info sopir yang akan menjemput (taksi Cipaganti). Nah masalahnya, ternyata lokasi taksi di grabtaxi tidak seperti Uber yang realtime terlihat bergerak. Lokasinya lama diam dan tiba-tiba meloncat, apa ini karena supir taksinya meletakkan HP di tempat yang tidak terjangkau sinyal GPS? Tapi memang dari awal, berbeda dengan Uber yang posisi mobilnya terlihat aktif bergerak, posisi taksi di grabtaxi  sepertinya lebih statik (mungkin karena taksi memang lebih banyak ngetem dibandingkan Uber?).

OK, kembali ke pemesanan, karena lama menunggu, istri menelepon dan supir bilang sudah sampai ke gedung Teknik Informatika dan Elektro, ternyata supir nyasar satu gedung ke Labtek 8 (Elektro), padahal istri di labtek 5 (Informatika). Tidak jauh sih, tinggal jalan sedikit saja. Tapi ini berarti supir juga melihat lokasi bukan posisi eksak seperti Uber, tetapi dari label. Labtek 8 memang memiliki tulisan Teknik Informatika dan Elektro (kelemahan ITB memang nama gedung tidak jelas, tidak ada plang di depan gedung).

Pembayaran seperti halnya taksi standar yang menggunakan argo. Kalau misalnya ada potongan discount apa kita yang harus tanya? apa sopir yang bilang ya?  Kalau Uber, dengan kartu kredit jadi praktis, tidak perlu menyiapkan uang.

Kesimpulan: label lokasi penjemputan sangat penting di GrabTaxi, berbeda dengan Uber yang menggunakan posisi eksak. Di satu sisi ini mungkin menguntungkan karena banyak orang yang tidak melek peta dan teknologi sehingga bisa saja saat memesan lokasinya melenceng, tapi  di sisi lain, repot kalau di tempat penjemputan tidak ada label lokasi yang pas. Perbedaan lain: Grabtaxi menggunakan taksi resmi dan Uber menggunakan mobil biasa plat hitam. Taksi punya kelebihan tidak terkena aturan 4 in 1, dan dapat masuk ITB dengan bebas (uber kadang bisa masuk ITB tapi kadang dicegat satpam). Sedangkan kelemahan Grabtaxi adalah tidak dapat menggunakan kartu kredit, harus tunai, sedangkan Uber justru sebaliknya walaupun sekarang katanya Uber sudah bisa menerima pembayaran tunai.

 

Pengalaman menggunakan Mi-Scale dan Mi-Band

Update Feb 2016: Untuk mencegah kekecauan update app Mi-Fit karena saya menggunakan app versi mi.com (bukan play store), sekarang setiap ada warning versi baru saya tidak lakukan udpate via app, tapi download  di http://app.mi.com/detail/68548  dan install manual. Sekarang saya juga gunakan mi-band saat mandi, karena sering lupa dipasang lagi kalau dilepas 🙂  dan ternyata tidak ada masalah.

Update: saat dicharge sempat terjadi masalah (lampu indikator mati) walaupun sudah ditekan kuat-kuat ke wadahnya. Solusinya: dilap dan ditiup. Sambil dicharge saya rendam talinya dengan air panas dan sabun untuk menghilangkan keraknya.

Update Des 2015: Terjadi lagi update otomatis sehingga mi-scale hilang dari mi fit (saya menggunakan versi mi fit dari mi.com bukan google play). Ternyata penyebabnya opsi autoupdate on dan mifit versi playstore dan mi.com punya id yang sama sehingga dapat saling update. Solusi: matikan autoupdate (gambar bawah).

matikan auto update mi fit

Sisi bagusnya, jadi tahu bahwa mi fit versi google play ada opsi untuk menghubungkan dengan Google Fit (gambar bawah).  Sayangnya versi dari mi.com tidak ada 🙁  Bagi yang tidak punya mi scale, sebaiknya gunakan versi playstore saja.

google fit

Karena mi-scale penting, maka saya akan kembalikan mi fit ke versi yang ada di mi.com. Berbekal kejadian sebelumnya yang membuat mi-band tidak bisa terhubung, saya tidak lakukan uninstall. Pertama saya unpair dulu; lalu donwload apk dari mi.com; baru install apk-nya. Selanjutnya pair ulang,  dan sukses 🙂

Update 19 Nov 2015: Mi-band tidak bisa terhubung (di pair) dengan smartphone. Memang beberapa hari ini, aplikasi Mi-Fit selalu minta update, kadang dua hari sekali, ini menunjukkan pengembang app-nya kurang bagus. Setelah saya update, Mi-Scale tidak bisa terhubung, ya sudah, toh masih bisa dilihat. Lalu update lagi di hari yang lain, firmware miband minta diupdate. Saya update, tapi baru sadar aplikasi Mi-Fitnya jadi versi yang Play Store yang tidak punya mi-scale (saya menggunakan app dari website mi.com langsung), lagipula data sebelumnya hilang. OK saya uninstall, saya download APK mi-fit langsung dari mi.com dan.. kaget saat Mi-Band gagal di-pair. Saya coba berbagai cara yang saya dapat dari internet mulai dari hapus pairing via setting bluetooth, pair sambil dicolokkan ke PC, sampai memasukkan ke kulkas, tapi hasilnya tetap nihil. Sialnya tidak ada mekanisme factory reset 🙁   Sekarang yang saya bisa lakukan adalah membiarkan sampai baterenya habis sendiri. Ada yang bilang, nanti akan tereset otomatis. Lain kali, perlu cari device yang ada tombol resetnya (seperti ChromeCast) atau ada display sehingga tidak bergantung penuh dengan HP. Update:   Mi-Band bisa terhubung lagi 🙂  Mi-Band saya diamkan 3 hari, lalu saya download lagi Mi-Fit dari mi.com (http://app.mi.com/detail/68548).  Dan..  band detected, berhasil!  lalu saya coba pair Mi-Scale, juga berhasil. Dugaan saya ini disebabkan bug parah dari app mi-Fit dan firmware terbaru mi-band. Tidak heran di app.mi.com skor app ini hanya satu bintang, demikian juga di Google Play, hanya 3.5 dengan banyak sekali review negatif. Jadi sebaiknya jangan langsung update, tunggu sampai 1-2 minggu baru update. Jika tidak bisa di-pair, diamkan. Ada yang bilang 24 jam tapi yang saya coba 3 hari.

Update 8 Nov 20125:  Ada versi terbaru dari mi-band yaitu mi band 1S.  Harga sama dengan versi mi-band yang lama, dengan tambahan utamanya adalah sensor untuk detak jantung!  tambahan minor yang lain adalah materi untuk strap yang lebih kuat.  Rincian dan foto-fotonya: en.miui.com/thread-181472-1-1.html   Jadi bagi yang mau beli, lebih baik tunggu versi ini. Sensor detak jantung akan membuat pengukuran aktivitas lebih akurat dan data yang penting juga untuk mengukur tingkat kebugaran.

Update Nov 2015:  Sudah menggunakan mi-band dan mi-scale selama 21 hari. Batere Mi-Band baru habis 50%,  jadi total bisa 40 hari baru perlu dicharge lagi. Wow,  seandainya saja  ada HP yang seperti itu.  Hal yang menyebalkan dari mi-band adalah saya selalu tertipu mau melihat jam dengan mi-band ini. Mungkin karena dulu pernah menggunakan jam tangan, jadi sering reflek melihat jam. Fungsi alarm juga terlalu lemah getarannya, saya tidak bisa bangun, atau karena memang pulas sekali tidurnya?  Saya juga sudah turun 2 kg.  Dengan sering menimbang jadi lebih mengantur makanan dan target 8000 langkah membuat lumayan dipaksa bergerak tiap hari.
— end update


Mi Scale

Mengingat berat badan saya yang sudah harus diturunkan, saya mencoba membeli timbangan digital. Sebelumnya sudah punya timbangan biasa, tapi angkanya sulit dibaca dan sepertinya tidak akurat. Cari-cari di Tokopedia dan melihat mi-scale. Saya tertarik karena di deskripsi produk ini ditulis akurasinya 50 gram dan bisa dihubungkan dengan Android app via Bluetooth.

Setelah saya beli, cantik rancangannya dan hasil pengukurannya gampang dibaca dengan satu angka dibelakang koma.

mi_scale

 

Sepertinya ini bukan barang resmi untuk di jual di Indonesia karena semua manualnya berbahasa Cina. Satuan (kg atau lbs) diset dengan saklar diatas batere.  Kemudian saya coba download app mi-fit di Play Store berdasarkan QR code, dan… tidak ada mi-scale. Loh? setelah Googling ternyata kita harus menggunakan app langsung dari mi.com, http://app.mi.com/detail/68548   Langsung pairing dan ada update untuk timbangan (ternyata timbangan bukan cuma sensor saja, tapi ada app juga di dalamnya).  Berikut tampilan mi scale di mi fit, dan versi mi fit di playstore tidak memiliki ini. Ada grafik sejarah berat badan juga.

mi scale di mi fit

Tadinya saya kira harus bawa handphone setiap nimbang, tapi ternyata timbangan ini punya memori, timbang saja sepuasnya dan kapan kita sempat nyalakan mi-fit maka data tersebut akan diekspor ke app, asal handpone berada sekitar 15m dari timbangan.

Mi Band

Setelah saya lihat di app mi-fit disediakan koneksi dengan mi-band, saya iseng-iseng cari info tentang mi-band ini. Saya tertarik karena ada fasilitas untuk melacak pola tidur (deep & light sleep) dan harganya paling murah dibandingkan fitness tracker yang lain.

mi_band

 

Baterenya tahan 30 hari, anti air (IP67: anti debu dan tahan 1m dibawah air). Ada yang melaporkan mati setelah digunakan berenang, jadi bagusnya maksimal untuk wudhu dan mandi saja.

Gambar di bawah adalah contoh tangkapan pola tidur. Bagian yang terang adalah light sleep (fase mimpi) dan bagian yang gelap adalah fase deep sleep. Sedangkan yang oranye artinya saya terbangun (duduk?). Berdasarkan pengalaman saya, pola dibawah adalah yang paling ideal, selang-seling antara light dan deep sleep. Bangun akan lebih segar.

polatidur

Selain untuk menghitung langkah, pola tidur dan alarm, ternyata ini juga bisa dihubungkan dengan smartphone untuk notifikasi (bergetar) jika ada telepon masuk. Selain itu juga bisa dihubungkan untuk notifikasi dari maksimum 3 app seperti email, whatsapp (gambar bawah). Tentu perlu mute group-group yang terlalu banyak mengirim pesan supaya tidak terlalu menggangu. Katanya versi awal mi-band LED-nya bisa mengeluarkan warna berbeda, sehingga kita set warna notifikasi untuk tiap app.  Sayang versi sekarang jadi putih semua.

miband_notif

Mi-band juga bisa digunakan untuk menghitung sit-up dan loncat tali. Anehnya harus diakses dari setting-profile-additional feature (kenapa profile?). Lumayan bisa loncat tali virtual tanpa takut kesangkut tali hehe

Untuk melihat kemajuan jumlah langkah (target standard adalah 8000 langkah per hari), kita bisa lihat notifikasi lampu LED. Ini agak ribet, caranya luruskan tangan dulu (seperti sikap sempurna di pramuka), lalu angkat cepat seperti melihat jam, pastikan mi-band menghadap kita, tunggu 3 detik. Jika 1 lampu menyala: 1/3 tercapai.  2 lampu: 2/3 dan tiga lampu artinya target sudah tercapai.

Pengalaman menggunakan Chromecast via Indihome

Update 2 Feb 2017: Terpikir menggunakan Chromecast untuk presentasi kuliah di kampus sehingga tidak perlu membawa laptop ke kelas, hanya smartphone+chromecast sudah cukup.  Masalahnya mayoritas  proyektor di kampus menggunakan colokan VGA bukan HDMI. Jadi solusinya saya cari adapter untuk female HDMI sebagai input (Chromecast) dan outputnya male VGA (ke proyektor). Cari di tokopedia ternyata ada (gambar bawah).  Harganya Rp.130rb.  Sayangnya Chromecast masih perlu colokan listrik, jadi tidak 100% portable sih, tapi dibandingkan laptop ya tetap jauh lebih enak 🙂

Update: sudah saya coba di kampus dan berhasil 🙂  Colokan listrik dapat diganti powerbank biasa. Masalahnya ternyata ada kelas yang menggunakan colokan male VGA, jadi terpaksa beli adapter female HDMI -> female VGA.  Mungkin harusnya dari awal beli yang ini saja, nanti  menggunakan kabel. Masalah utama adalah internet, tiap kelas punya access point yang berbeda, dan  repot harus setup setiap pindah kelas. Solusinya saya menggunakan tethering saja. Ternyata bisa HP digunakan sebagai pengontrol sekaligus tethering. Cuma saat install harus menggunakan HP / Laptop lain untuk mensetup.

 

 

 

Update Okt 2016: Saya ganti koneksi internet dengan XL supaya dapat menonton Netflix.  Kenapa balik ke Netflix? Karena Netflix memang streaming film paling gampang. Sejak ada Indihome,  jatah 12GB XL saya sering bersisa, jadi manfaatkan saja. Untuk mengganti koneksi Indihome ke XL saya hardreset chormecast (tekan tombol 20 detik), lalu diset menggunakan app chromecast. Saya menggunakan Asus Zenfone sebagai hotspot. Ternyata sangat lancar terhubung (beda dengan router Indihome yang susah). Untuk menonton film berdurasi 2 jam, kira-kira menghabiskan 1 GB. Tapi device yang jadi hotspot tidak dapat digunakan sebagai remote. Update: sekarang konek ke Indihome gampang, sepertinya ada update OS Chromecast.

Update Juli 2016: Cara yang paling praktis untuk nonton film via chromecast: Install putlocker extension di Chrome. Cuma kadang tidak tidak bisa langsung (device missing), jadi perlu dipancing dengan Android lain.

Update April 2016: spotify sudah masuk ke Indonesia, dan ternyata ada opsi untuk casting via chromecast. Lumayan bagi saya yang tidak mempunya speaker eksternal.

spotifiy_chromecast

 

Update Mar 2016: Sebagai alternatif Netflix (karena diblok Telkom), dapat gunakan app Kodi, tambah plugin Exodus dan trakt.tv (gambar bawah). Kalau mau legal, pilih film yang memang ada di Netflix.  Kelemahannya harus menggunakans screencast biasa sehingga HP harus selalu menyala. Memang agak ribet, karena setelah install Kodi harus install plugin Exodus dan layanan subtitle. Untuk resume film juga tidak sesimple Netflix. Kelebihannya, bisa memilih subtitle bahasa Indonesia (kalau ada).

kodi

 

Update Mar 2016:  Netflix tidak dapat digunakan di Choremcast+Indihome. Karena Telkom memblok Netflix dan Chromecast tidak ada setting VPN,  ya tewas deh.  Solusinya beli router yang support VPN. Tapi saat ini Netflix juga sedang habis-habisan memblok VPN.

Update Jan 2016: Karena sering sulit untuk terhubung dengan Chromecast (CC), saya coba factory reset dengan menekan tombol di chromecast setkitar 20 detik, dan sialnya sekarang dia tidak mau terhubung dengan wifi Indihome (sedangkan hotspot HP bisa).  Padahal sudah menggunakan windows installer. Router yang digunakan Indhome adalah Huwaei HG8245A.  Sekarang masih mengutak atik setting routernya 😐   Update: sudah berhasil, caranya dengan merestart (off-on) router dan CC, dan langsung lakukan setup. Setelah berhasil, HP ternyata tidak bisa terhubung dengan CC, solusinya komputer harus disleep atau dimatikan baru gunakan HP.  Saya juga menemukan bahwa jika CC mati (karena USB-nya terhubung dengan TV dan TV dimatikan), maka CC jadi tidak dapat ditemukan dan harus direset ulang 🙁  Akhirnya saya colokkan USB CC dengan colokan biasa sehingga akan tetap menyala walaupun TV dimatikan. Beberapa device anehnya juga masih  tidak dapat terhubung. Device yang selalu terhubung justru Galaxy Nexus lama saya yang menggunakan Android 4.2. Setelah itu terhubung kita dapat ‘memancing’ device lain: caranya di device yang bisa terhubung buka Youtube/Netflix, lalu di device lain hubungkan juga dengan Youtube dan Netflix. Aneh memang dan memang keluhan tentang Chromecast ternyata banyak  😐

Update Jan 2016: Netflix sudah dapat digunakan di Chromecast. Tapi  walaupun saya berlangganan Netflix versi HD, masih sering terjadi buffering dan turun resolusinya. Youtube masih paling unggul untuk chromecast. Update: Netflix diblokir Telkom Indihome 🙁  Gara-gara Telkom punya UseeTV, langsung main blokir saja. Walaupun di laptop atau HP dapat tetap menonton dengan VPN, tapi Chromecast tidak dapat menggunakan VPN. Perlu setup virtual router dulu. Jadi laptop dihubungkan dengan kabel ke modem Indihome, lalu laptop dihubungkan dengan VPN dan dijadikan access point. Artikel terkait ini: https://www.expressvpn.com/support/vpn-setup/share-vpn-connection-windows-manual/  

chromecast_netflix  IMG_20160124_115603

Chromecast (CC) adalah dongle yang dihubungkan dengan TV sehingga TV dapat digunakan untuk menonton layanan streaming dari Youtube, Twitch, Google Play Movie, Google Play Music dsb (HBO Demand, Netfflix dan Hulu sayangnya belum tersedia di Indonesia).  CC tidak menyediakan remote terpisah. Kontrol dilakukan via Android/iPhone atau PC/laptop.  Selain itu, Chromecast juga dapat digunakan untuk melalukan presentasi Android+TV dan bahkan untuk bermain game bersama-sama. Intinya kita menggunakan smartphone sebagai remote atau controller dan TV sebagai output. Membuat TV jadi ‘pintar’ hehe

CC tidak dapat dianggap sebagai penghubung yang sekedar memindahkan isi dari smartphone/laptop ke TV. Di dalam CC ada prosesor, memori (500MB) dan penyimpanan (2GB). Saat kita membuka Youtube di smartphone dan meng-castingnya ke TV yang terjadi adalah Chromecast akan menjalankan app Youtube yang tersimpan di alat ini dan menghubungi internet langsung untuk streaming video. Enaknya ini menghemat batere smartphone (karena hanya berperan sebagai remote) dan kinerja streaming jadi bagus.

Kenapa perlu beli Chromecast? karena dengan adanya internet Indihome, kuota internet sudah bukan masalah lagi dan streaming jadi hal yang biasa. Anak saya suka sekali menonton Youtube dan Twitch  seputar kompetisi game, dan saat menonton posisinya meringkuk dengan mata yang dekat sekali dengan smartphone, saya khawatir ini akan merusak kesehatannya dalam jangka panjang.  Nonton TV akan lebih sehat bagi mata dan badan karena bisa lebih rileks dan jauh. Lagipula harganya masih relatif terjangkau.

Saya cari dan beli di Tokopedia dan dua hari kemudian barang sudah sampai ke rumah. Senang sekali, dan melihat review di internet, setup harusnya beres dalam 2 menit… tapi ternyata 3 jam kemudian saya masih gagal 🙁  Silahkan skip ke bagian paling bawah posting ini untuk cara yang akhirnya berhasil hehe.

 


chromecast  chromecast di TV

 

Keterangan gambar: Chromecast dan setelah ditempel ke TV. Chormecast mendapat power dari USB, jadi idealnya gunakan TV yang punya port USB.

Ini yang saya lakukan: Saat saya hubungkan Chromecast ke TV dan menyalakannnya, saya diminta ke website google untuk mensetup. OK, buka website, isinya adalah perintah untuk menginstall app Chromecast di Android atau iPhone. Saya install app ini di Android (Nexus 5), dan jalankan. App ini sukses melihat Chromecast saya (setiap  Chromecast punya id, dan memang asyik kalau setiap TV di rumah ditempel alat ini). Saya diminta memasukkan data access point dan password, saya masukan dan di TV muncul “ChromecastXXX connecting to network[namaaccesspointsaya]” dan ini berlangsung lama, lho?  Lalu muncul pesan error di Android.

Saya googling, ada tips bahwa konfigurasi router harus seperti ini: Enable: Universal Plug and Play (UPnP), multicast, Internet Group Management Protocol (IGMP) Disable: AP/client isolation, virtual private networks (VPNs), proxy servers, IGMP Proxy. Saya hanya bisa meng-enable UPnP sedangkan yang lainnya tidak ada atau tidak dapat diubah (lagian saya bukan orang network, serem kalau terlalu banyak merubah setting router).

Frustasi akhirnya saya tidur. 4 jam kemudian saya bangun, entah googling atau dapat ilham (lupa karena setengah tidur). Saya lihat bahwa di website setup chromecast ada pilihan menginstall melalui laptop Windows. OK saya install  programnya dan jalankan. Mirip dengan app android, dia menghubungi Chromecast, memasukan data access point dan.. sukses! Whoa, hanya dalam 1-2 detik, dia bisa terhubung dan muncul pesan sedang mengupdate OS CC. Lalu saya install di Chrome browser laptop extension GoogleCast, agak lama tapi bisa. Lalu saya coba jalankan app Youtube di Android dan akhirnya bisa casting walaupun sempat tidak terdetect.  Contoh streaming Youtube di TV dapat dilihat di gambar bawah. Jika memutar video Youtube yang berformat HD,  gambarnya lebih bagus daripada TV kabel dan satelit, kecuali tentunya kalau berlangganan TV kabel/satelit  yang HD (yang biasanya harus mengeluarkan biaya ekstra).  Asyiknya, video Youtube yang terbaru biasanya sudah menggunakan format HD.

Intinya: jangan gunakan app Android untuk setup Chromecast di Indihome. Gunakan program setup Windows. The end.

 

casting_chromecast

Pengalaman Memasang IndiHome di Bandung

Langsung loncat ke posting awal (tentang pemasangan), lewati update-update.

Sekarang ada app MyIndihome, katanya ini  app bagus jika ada masalah dan memerlukan teknisi. Saat install wah banyak sekali permision yang diminta: lokasi, data kontak, dapat menelepon, mengambil gambar,  mengakses foto, mengirim dan menerima SMS. Sempat curiga jangan-jangan ini app virus.  Account di my.telkom.co.id tidak bisa digunakan 🙁  Verifikasi account dengan mengisikan alamat pendaftaran. Sempat cari-cari menu untuk melihat usage, ternyata ada di “Info Bonus”.  Lalu kita dapat melihat point reward, ini yang tidak ada di my.telkom.co.id. Beberapa fitur masih “dalam pengembangan”. Untuk pemanggilan teknisi belum saya coba dan mudah-mudahan tidak perlu.

Update Maret: dapat telepon dari 147, lucunya yang ditanya adalah telepon. Apakah ada masalah? Saya jawab: “tidak pernah digunakan”.  Sebenarnya masih ada masalah untuk telepon karena tidak dapat menerima telepon dari luar, cuma saya khawatir kalau itu diperbaiki nanti malah internetnya yang bermasalah. Telkom sepertinya belum sadar bahwa kecuali perusahaan, orang-orang sudah semakin jarang menggunakan telepon kabel lagi. Harusnya dia nanya tentang kondisi internetnya (masih bagus sih).

Update Maret: Baca info dari kaskus, sudah ada yang berhasil downgrade dari 3P (internet, telepon, tv) ke 1P (internet saja). Tagihan jadi turun ke 320rb+PPN untuk 10Mbps. Tapi belum semua region bisa. Syaratnya:  harus kontrak langganan 1P selama 2 tahun, jika berhenti di tengah jalan kena penalti 500rb. Lalu kembalikan set top box nya, dan mengisi pernyataan mutasi paket.  Ada juga yang hanya bisa turun ke 2P (internet+TV). Ada yang mewajibkan harus menggunakan kartu kredit, ada juga yang katanya tidak bisa samasekali. Sepertinya masih tergantung wilayah.

20 Feb:  RCTI, Global TV dan MNC menghilang dari UseeTV, ada tulisan “ditutup atas permintaan MNC group”, mulai perang content?

Update Feb 2016:  Tagihan naik dari 381 menjadi 405rb  (naik sekitar 20rb), ditambah PPN jadi 440 rb.  Sayangnya tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Tapi sekarang ada kemajuan, biaya Indihome sudah ada eksplisit di webnya http://www.indihome.co.id/package  tapi jangan lupa ditambah 50rb untuk sewa STB (memang bisa langganan tanpa sewa itu?). Kualitas masih bagus, sangat jarang down, kecepatan juga stabil paling kadang-kadang disconnect. Update Mar 2016: Tagihan naik sedikit, total dengan PPN menjadi 450rb.

Update 4 Feb 2016: Channel seperti HBO, Fox Movie Premium menghilang, berarti memang promo semua channel berlaku sampai dengan Februari. Jika mau saluran ini, perlu beli lagi terpisah (http://www.indihome.co.id/interactive-tv)   Sedangkan HBO on Demand masih ada.   Jadi apakah sepadan mengeluarkan tambahan 75rb hanya untuk dapat channel Fox Movie Premium?  tentu tidak hehe. Apalagi kalau mau HBO harus tambah lagi 70rb.  Jauh lebih baik Netflix, dengan 140 rb puas dengan berbagai film (catatan pengalaman saya menggunakan netflix). Ini sebabnya Telkom agresif memblok Netflix.

Update Feb 2016: Indihome mulai Februari 16 memberlakukan FUP (Fair Usage Policy), jadi jika mencapai batasan kuota tertentu maka kecepatan akan diturunkan. Untuk 10Mbps batasannya adalah 300GB/bulan, lebih dari itu kecepatan diturunkan ke 75% kecepatan normal, lewat dari 400GB/bulan turun lagi ke 40%.  Sudah dikonfirmasi pihak TelkomCare:  https://twitter.com/telkomcare/status/693270630251175936   Saya pribadi tidak masalah dengan FUP (memang ada customer yang brutal main download 24 jam), tapi perlu ada sosialisasi terlebih dulu dan ada fasilitas untuk mengecek pemakaian.  Update: sekarang untuk mengecek pemakaian dapat melalui my.telkom.co.id, batas FUP direset setiap tanggal 1.

Update Jan 2016: Indihome memblok layanan Netflix. Dugaan saya karena bersaing dengan TV kabel mereka (UseeTV). Bahaya saat ISP mulai tidak netral dengan content. Sayangnya, alternatif fiber yang lain masih belum tersedia di sekitar rumah.

Update Des 2015: Sudah ada peta lokasi cakupan Indihome: http://fibermap.indihome.co.id/  Memang terlihat terpusat di tengah.

snapshot peta cakupan fiber indihome bandung

Update Des 2015: Untuk jaga-jaga, saya kumpulan informasi tentang alternatif internet Fiber selain Indihome untuk kota Bandung, hasilnya ada empat : FirstMedia, Bizznet, CBN dan MNC.  Sayang cakupannya masih terbatas, harusnya mereka bersatu untuk sharing tiang 🙂

Update 30 Nov 2015: ada update pada UseeTV, memang setelah update agak sulit masuk diawal tapi setelah masuk saya lihat mulai dari splash screen, menu dan film-film (HBO, FOX) resolusinya jadi terlihat lebih bagus. Mungkin sudah HD? Bagus kalau benar, dan TV satelit akan semakin sulit bersaing. Sebagai catatan: sudah dua bulan kami berhenti TransVision, bahkan setelah beberapa kali lapor, disc maupun dekorder belum juga diambil. Sepertinya Transvision cukup terpukul (kalau tidak pasti dia sudah buru-buru mengumpulkan disc+dekorder yang sudah tidak terpakai). Saya pribadi tidak mengerti, Trans beli dari Telkom (Telkomvision –> Transvision) tapi ujungnya Telkom menyerang balik dengan UseeTV?

Update 24 Nov 2015: Bagi penggemar film streaming, Indihome adalah pilihan ideal.  Kami pernah bertiga streaming tiga film Youtube yang berbeda dengan lancar. Bagi yang memiliki TV HD, gunakan device seperti Chromecast (posting saya tentang instalasi chromecast) agar dapat menikmati Youtube, Twitch, Play Movie berkualitas HD di TV. Beli juga kabel HDMI agar bisa menghubungkan laptop dengan TV untuk film yang belum disupport chromecast. Tablet juga jadi bermanfaat untuk menonton (beli tablet yang support Wifi saja, karena lebih murah). TV on demand juga bagus karena jika ketiduran, bisa rewind lagi.  Sayangnya untuk TV 4K masih mahal baik TV-nya dan langganan Indihome 50Mbps (1.4 jt/bulan).  Tapi mungkin akan jadi opsi yang menarik kalau harga TV 4K sudah mulai turun hehe.

Update 17 Nov 2015: Indihome mati. Saat saya pulang kantor sore, saya melihat ada petugas di tiang telepon. Sepertinya ada tetangga yang memasang Indihome. Masuk rumah,  anak saya melaporkan internet mati.  Modem berkedip-kedip merah, internet, TV, telepon mati semua. Segera saya keluar, sayangnya petugas tersebut sudah pergi. Sudah lapor dan dapat nomor tiket pengaduan, kita tunggu saja. Tip: jika ada petugas Indihome di tiang telepon, cek selalu koneksi, sepertinya mereka kerja kurang rapi dan asal selesai sehingga dapat membuat koneksi yang sudah ada terganggu. Lalu foto orang yang naik tiang dan catat namanya.

Update: Petugas datang sehari kemudian (bagus, responsif), dan sesuai dugaan, dia mengkonfirmasi bahwa ada yang memindahkan port saat memasang sambungan baru. Ini disebabkan kerusakan yang membuat hanya 8 port yang berfungsi dari 16 (splitter?). Karena 8 sudah terisi, maka punya sayalah ditukar. Akhirnya oleh petugas yang menangani gangguan, port ditukar kembali hehe (itupun nebak, ternyata mereka tidak punya catatan per tiang ). Berarti orang yang baru pasang kemarin jadi mati internetnya dong? Yup.  Saat saya tanya, nanti gimana kalau petugas yang lain menukar kembali? Jangan-jangan seperti permainan anak-anak yang bolak-balik. Katanya, tim pemasang dan tim gangguan terpisah, jadi dia juga yang akan dipanggil. Katanya dia sudah panggil tim yang akan memperbaiki splitter ini. Semoga saja, karena kalau tidak, setiap ada yang pasang baru jangan-jangan ditukar lagi. Kesimpulan: Di lapangan Telkom masih kacau, tidak ada koordinasi, tidak ada data.

Update: baru beberapa jam diperbaiki petugas gangguang, eh petugas pemasangan (yang buat internet saya mati kemarin) datang dan naik ke tiang telepon! Waduh, seperti lawak saja (tapi tidak lucu). Sepertinya pelanggan yang baru pasang itu mengontak petugas pemasang (bukan 147 atau gangguan).  Langsung saya datangi petugasnya “jangan ditukar lagi pak portnya!”. Internet sempat mati lagi, tapi tidak kedip-kedip merah modemnya dan tidak lama hidup kembali. Entah port siapa yang dia tukar. Wah gawat kalau setiap hari harus pantengin tiang telp.  Apa saya harus beri tulisan di tiangnya? Update: dua hari berikutnya, saya lihat baik tim yang memasang maupun yang memperbaiki bersama-sama naik tiang lagi, sepertinya ada kerusakan yang cukup besar di STO(?). Mudah-mudahan mulai sekarang tidak ada masalah koordinasi lagi.

Update Nov 2015: Sudah dapat tagihan elektronik, sekarang bisa tahu rinciannya. Kaget saat melihat rincian tagihan Indihome, kok ada abonemen 86rb walaupun ada restitusi 41rb (saya tidak pernah diberitahu ada abonemen). Lalu ada tagihan lokal 2000 dan SLJJ 6000, ini juga aneh, bukannya 1000 menit gratis? atau restitusi 41rb tersebut yang seharga 1000 menit gratis?  Totalnya untuk telepon saya harus membayar 50rb. Update: Setelah kontak support twitter Telkom, jawaban untuk abonemen: “Untuk tagihan tersebut sudah termasuk 1 tagihan Indihome Pak.” dan saat ditanya tentang restitusi 41rb itu untuk apa, jawabannya “Utk tagihan tsb Kami cek sudah sesuai ya Pak di data Kami” <gubrak>.  Jadi ternyata ada biaya tersembunyi dari Indihome yang detilnya pihak support Telkom sendiri tidak tahu untuk apa.  Update: setelah saya lihat lagi, ternyata memang harga telepon 50rb dan internet 330, jadi totalnya 380rb sebelum pajak 10% dan materai.  Jadi tidak tersembunyi, cuma detil telepon yang 50rb itu yang masih tidak jelas darimana, walaupun kalau ditotal cocok dengan harga yang ditawarkan.

Update Ok 2015:  saat awal bingung tagihan Indihome ini akan muncul lewat apa dan kapan jatuh temponya. Akhirnya saya langsung bayar saja dengan internet banking BNI. Selanjutnya setelah saya cari, ternyata bisa melihat tagihan dan set ebilling agar dikirim via email melalui my.telkom.co.id  (btw website ini bukan untuk daftar pelanggan baru Indihome lho, tapi bagi yang sudah jadi pelanggan). Kata pihak support, jatuh tempo selalu tanggal 20 (tidak bisa diset?). Proses pendaftaran cepat, cuma hati-hati passwordnya ternyata tidak diencrypt, jadi gunakan password yang berbeda dengan password yang kita gunakan untuk layanan lain (email, FB dst). Selanjutnya login menggunakan username. Saya sempat ketipu, saya pikir telkom id itu adalah nomor internet, ternyata username yang kita daftarkan dulu. Keanehan lain, tagihan di BNI lebih tinggi sekitar 20rb dibandingkan yang dikeluarkan my.telkom.co.id, bukan pajak dan biaya administrasi. Coba kita lihat beberapa bulan ke depan.

Update 16 Ok 2015: ternyata telepon kabel bisa ditelepon oleh sesama telepon kabel. Kalau ditelepon via handphone masih keluar pesan nomor tidak dikenali, bahkan kalau ditelepon via Telkomsel juga sama.  Menurut saya ini masalah pendaftaran nomor saja di database, tidak perlu petugas datang.

Update 12 Oktober 2015:

Akhirnya membeli alat telepon kabel. Walaupun dalam paket Indihome ada telepon kabel (dengan bonus 1000menit gratis ke menelepon ke telp kabel lainnya), tapi tidak termasuk alatnya 🙁   Beli yang paling murah di Tokopedia 85rb. Saat ditest menelepon, suara sangat jernih. Tetapi kemudian saat mencoba telepon masuk… “nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, periksa lagi nomornya” waduh. Saat saya kontak pihak support via Twitter, dia mengatakan akan ada petugas yang datang, saya bilang mending nanti saja, karena fungsi telepon masuk bagi saya tidak penting, saya khawatir kalau diperbaiki jangan-jangan malah internetnya yang mati. Biarkan sajalah.

Tip: sebelum pasang indihome, siapkan alat telepon kabel sehingga bisa ditest petugas langsung.

end update-


 


Setelah dihitung-hitung pengeluaran kami sekeluarga untuk internet lumayan besar per bulan, apalagi anak saya mulai senang main game online dan menonton Youtube. Setelah melihat iklan, kami putuskan untuk mendaftar Indihome Triple Play, sekalian juga untuk menghemat dengan pindah dari TV satelit ke TV kabel. Pendaftarannya sampai dua kali dan hampir ditipu untuk yang pertama hehe. Berikut ceritanya.

Kami mendaftar di website indihome.co.id (menggunakan nama istri) sekitar 5 bulan yang lalu.  Tahapannya agak membingungkan karena paket tidak langsung terlihat. Istri kemudian ditelepon oleh pihak Indihome untuk konfirmasi, dia agak bingung untuk menentukan secara tepat lokasi kami dimana. Kami diminta menyiapkan 150rb untuk biaya pasang yang nanti dibayarkan ke teknisi.  Kemudian datang SMS dari pihak teknisi. Dari SMS sudah aneh karena si teknisi ini hanya memanggil nama (tidak menggunakan bpk/ibu) dengan gaya tulisan yang tidak resmi. Saat bertemu ternyata memang iya tidak pro hehe. Berjaket kulit, tidak berseragam, merokok sampai ke dalam rumah. Langsung minta 700 ribu. Tidak bisa menjelaskan saat ditanya rinciannya (rumah kami hanya berjarak sekitar 10m dari tiang, jadi tidak masuk akal untuk biaya kabel).  Karena khawatir, kami tidak mau meneruskan, karena nanti kalau ada masalah koneksi bakal repot kalau awalnya sudah seperti ini.  Lewat sebulan teknisi itu SMS, apakah mau pasang, kami tetap tidak menanggapi.

Minggu kemarin, akhirnya saya mencoba mendaftar via Twitter @telkompromo  karena biasanya support Twitter perusahaan telko lebih bagus daripada media lain. Saya daftar, dan yang agak aneh dia menanyakan lokasi kantor pemerintahan/sekolah yang terdekat (mungkin untuk mengecek ketersediaan FO), akhirnya saya kirim koordinat peta rumah saja. Setelah itu dapat rincian harga sbb (ingat beda lokasi mungkin beda harga dan nanti mungkin harganya berubah):

Bapak, lokasinya sudah tersedia paket IndiHome Triple Play Fiber Optic kecepatan 10-100Mbps.

10Mbps Rp 380.000
20Mbps Rp 670.000,
50Mbps Rp 1.420.000,
100Mbps Rp 2.920.000,-

(Belum termasuk PPN). Biaya pemasangan Rp 75.000,- jika ada penambahan tarik kabel akan dikonfirmasikan oleh rekan teknisi Kami saat pemasangan dan dimasukkan ke tagihan bulan pertama (tidak ada pembayaran apapun melalui rekan teknisi Kami)

Nah ini yang bagus, berbeda jauh dengan yang pendaftaran kami pertama yang agak bingung dalam memilih paket dan harus membayar cash ke teknisi. Untuk yang sekarang, pemilihan paket lebih sederhana dan tidak ada transaksi cash ke teknisi. Salut untuk Telkom yang bisa cepat mengubah aturan.

Di hari yang sama saya dapat SMS konfirmasi, mungkin dari supervisornya teknisi?  Tiga hari kemudian teknisi menelepon dan datang,  teknisi yang ini berbeda dengan yang sebelumnya dan berseragam.  Pemasangan sangat cepat, pertama ada dua teknisi yang memasang kabel ke tiang yang terdekat. Satu tiang katanya bisa sampai menampung 16 slot, saya lihat sekilas sepertinya tiang dekat rumah saya sudah terisi separuh. Kabel kemudian dihubungkan ke modem (optical network terminal). Modem ini juga berfungsi sebagai access point untuk koneksi via wifi,  koneksi ke telepon rumah, LAN dan, dekoder TV (IP set top box).

petugas_indihome_tiang_kecilmodem_indihome_kecildekorder_tv_kecil

Keterangan gambar: petugas memasang kabel ke tiang, modem dan dekoder TV (modem belum terhubung jadi keluar kedip-kedip merah)

Setelah itu datang petugas ketiga, petugas ini menyiapkan dekoder TV dan mengaktifkan internet, termasuk menyiapkan access point. Ternyata alat telepon tidak diberi, jadi belum bisa mencoba (gratis 1000menit ke sesama telp rumah).  Setelah internet dipasang dicoba kecepatannya dan mencapai 10Mbps down dan 2Mbps up.

Untuk TV kabel, karena masih promo hampir semua saluran ada. Tapi setelah promo berakahir saluran seperti HBO dan Fox Movie Premium harus dibeli terpisah (60rb untuk group HBO dan 40rb untuk Fox Movie Premium). Itu termasuk saluran HD.

Yang menarik adalah fasilitas TV On Demand (TVOD) dan Video On Demand (VOD).  Jadi  untuk TVOD, kita bisa melihat acara sampai 7 hari mundur, sehingga enak kalau kita kelewat suatu acara, tinggal putar ulang. Kalau ketiduran juga dapat di rewind.  Lalu pada VOD (termasuk HBO On Demand), kita bisa memilih diantara sekitar 30 film untuk ditonton. Sayang memang pilihannya masih sangat sedikit, tapi ini sudah menuju arah yang benar, mudah-mudahan seperti layanan seperti Netflix akan tersedia nanti hehe.

Sekarang Indihome sudah digunakan sekitar 2 hari dan sangat lancar. Ping kecil (cocok untuk main online anak saya) dan kecepatan stabil di 10Mbps. Nonton Youtube lancar, cuma anehnya untuk nontoh Periscope sering gagal. Periscope baru lancar setelah menggunakan Opera Max.  Kita lihat beberapa bulan kedepan, mudah-mudahan tetap lancar.

Indosat: SMS Content 1300 dan SMS Content 4650

Update Des 2016: Istri sering mendapat SMS dari 808, curiga, SMS lagi ke 726 (status). Hasilnya ada dua layanan asoy dan ungu lagi 🙁  Kirim pesan ke @indosatcare, mereka bilang saya tidak berlangganan. Penasaran saya cek tagihan, ternyata memang tidak ada SMS premium. Jadi kemungkinan ada dua database yang tidak konsisten isinya, satu yang digunakan SMS 726, satunya lagi yang digunakan untuk billing dan juga digunakan oleh cs.  Atau, saya terdaftar tapi tidak ditarik bayaran.

Update 29 Nov 2015: Setelah berganti jadi Indosat Oreo eh Ooredoo ternyata detil tagihan menghilang. Berganti hanya jadi satu lembar berisi rangkuman tagihan 🙁   Ayolah, kan cuma email, tidak perlu hemat kertas.  Padahal bulan ini saya ada tagihan telepon sekitar 35rb, dan saya ingin tahu nomor mana saja karena seingat saya sekarang saya jarang menelepon. Saya kontak twitter indosatcare, jawabnya akan diaktifkan nanti tunggu SMS konfirmasi. Tunggu 24 jam, SMS belum sampai, kontak lagi dan katanya “detil tagihan sudah diaktifkan, tunggu bulan depan”. Duh. Ya sudah kita lihat saja bulan depan. Update: sudah dapat detil


Saya dan istri menggunakan layanan Indosat Matrix. Ceritanya dimulai saat menerima tagihan bulan Juli 2015 untuk telepon istri saya. Kami terkejut karena tagihannya kok lebih besar dari biasa. Saya lihat di lembar utama tertulis ada dua layanan yang aneh:

SMS Content 44545  
Layanan VAS 

Karena jumlahnya saya menduga SMS Content 44545  ini layanan internet. Istri menggunakan paket Rp49 ribu per bulan, dan memang sering daftar paket lagi sebelum waktu berakhir. Cuma kenapa namanya SMS 4454 dan jumlahnya bukan 49rb (malah Rp44,545)?

Sedangkan untuk layanan VAS saya coba cek ke lembar detil, ternyata ada beberapa SMS aneh dan berulang-ulang:

SMS Content 1300 ke nomor 935906 (Rp1300)
SMS Content 4650 ke nomor 9951799 (Rp4650)

Saya email ke cs indosat inti jawabannya “..VAS service adalah layanan digunakan berdasarkan dengan permintaan pelanggan seperti SMS content berlangganan, M-Banking, atau download (mengunduh). Silakan cek kembali pada lembar detail billing yang kami sertakan dengan lembar tagihan”, saya reply: “OK saya sudah lihat detail billing, SMS 1300 itu apa? dan mohon diblokir” … dan sialnya jawaban cs SAMA PERSIS dengan sebelumnya.  Argh.

Saya beralih ke Twitter @indosatcare, nah baru ada jawaban yang bagus:

@Indosatcare menjawab: “kirim sms STATUS ke 726”. Saya lakukan dan ternyata saya terdaftar di layanan  asoy_99517 dan ungu_9359.  Apaan? Entah kapan dan bagaimana dua layanan ini aktif, OK saya coba unreg. Jahatnya layanan ini, untuk asoy ternyata harus menggunakan huruf kecil “UNREG asoy” sedangkan untuk ungu harus menggunakan huruf besar “UNREG UNGU”  (tidak bisa jika salah case).

Setelah ada status berhasil unreg, saya cek ke 726 dan ternyata saya masih terdaftar. Pihak indosatcare kemudian mengatakan agar menunggu 1×24 jam. Gatal ingin tanya “kenapa nggak bisa langsung?, kan cuma ganti satu field/record saja di databasenya” tapi ya sudahlah.

Kejadian ini pernah saya alami untuk XL, bedanya dengan Indosat, selain menstop, XL kemudian mengurangi tagihan saya (jadi kredit untuk tagihan bulan berikutnya).

Kesimpulan: rutin cek STATUS ke 726.

Pengalaman Menggunakan App Uber di Bandung

Update Des 2015:  GrabTaxi sudah tersedia di bandung, ini posting pengalaman menggunakan grabtaxi.

Update Des 2015:  Ngobrol dengan sopir, katanya sekarang kalau mau bergabung jadi sopir sudah bisa langsung tanpa harus bergabung dengan koperasi/perusahaan travel.  Lalu dari sisi sistem: saat kita pesan, maka yang mendapat tawaran adalah  yang lebih dekat dulu. Jika tidak mau, maka otomatis sopir akan offline untuk sementara (sebagai punishment?).

Update 28 Nov 2015: Istri akhirnya mencoba Uber sendiri.  Maunya menggunakan kartu kredit saya yang kedua (saya tidak tahu apakah satu kartu kredit bisa digunakan di dua acc uber?). “Limit kartu mas kan lebih rendah daripada punya saya, kalau ada apa-apa dengan kartu kreditnya lebih aman ” <gubrak>.  Tentu dengan kode referensi saya, biar dapat gratis 75rb hehe.  Untuk percobaan kedua, supir uber yang apply lebih dekat, cuma sayangnya dia agak berputar-putar. Sepertinya masih belum ada navigasi bagi supir untuk menuju tujuan. Nomor plat mobil juga beda, si supir beralasan mobil turun mesin. Mobilnya juga bau rokok kata istri saya.   Untuk memonitor istri,  ternyata ada fitur untuk menshare perjalanan, jadi kita bisa lihat posisi istri setiap saat.  Ini penting karena istri saya pergi sendiri.  Perjalanan pulang istri menggunakan uber juga. Yang ini mobilnya lebih bagus dan bersih, supir juga mengirim SMS untuk memberitahukan  bahwa jalanan agak macet. Intinya istri puas menggunakan Uber, saya juga puas karena tidak perlu bermacet-macetan 🙂

Update Nov 2015: berdasarkan keyword yang masuk, sepertinya banyak yang mencari info tentang bagaimana menjadi supir Uber Bandung.  Dari Twitter Uber, saya lihat cara yang harus dilakukan adalah mengirim email ke partners.bandung@uber.com Saya dukung, semakin banyak supirnya semakin bagus 🙂  Katanya sekarang sudah ada 150 mobil uber di Bandung.

Beberapa hari ini, app Uber mulai dapat digunakan di Bandung (baru UberX). Bagi pengguna smartphone aktif, tentu lebih menyenangkan menggunakan app ini dibandingkan cara reguler dengan menelepon call centre taksi yang ribet. Kemarin saya mencoba untuk perjalanan pendek dan hasilnya cukup memuaskan. Langkah-langkahnya sederhana, install App Uber untuk Android, isi data termasuk kartu kredit (ini yang mungkin susah bagi yang tidak memiliki kartu kredit). Uber akan memverifikasi nomor telepon dan email. Untuk pesan tinggal tap button dan saat ada pengemudi uber yang bersedia langsung kita bisa monitor pergerakannnya, ditambah ada info foto, nama dan no plat mobil. Tadinya saya pikir harus menentukan dulu tujuan, tapi ternyata tidak.

Nah repotnya, saat saya mau pesan saya melihat ada mobil Uber yang dekat sekali, tapi sayangnya dia kalah cepat dengan mobil yang jauh. Jadi sepertinya Uber memberikan kesempatan bagi pengemudi dalam jarak tertentu dengan pemesan untuk berlomba siapa cepat siapa dapat (tidak memprioritaskan jarak dengan pemesan). Tapi tahu sendiri kan kondisi lalulintas di Bandung yang sering macet, jarak itu tidak berbanding lurus dengan waktu tempuh. Akibatnya prediksi waktu penjemputan Uber yang lima menit molor menjadi 30 menit. Bagusnya saya bisa monitor posisi mobil penjemput sehingga tidak terlalu kesal juga menunggu. Cuma kalau misalnya untuk mengejar pesawat bisa gawat tuh. Saran saya: sebaiknya ada prioritas berdasarkan kedekatan dengan lokasi pemesan.

App untuk si sopir sepertinya tidak memberikan bantuan navigasi suara, jadi mobilnya jalan terus tidak berhenti di posisi jemput hehe (kelewat). Terpaksa saya telpon (ada fasilitas kontak di App Uber) dan meminta sopir untuk putar balik dengan memberikan ancer-ancer posisi. Saran saya: app ini bagusnya menyediakan fasilitas tambahan deskripsi tempat penjemputan, misal di depan restoran X dst.

Saya dan istri langsung naik, dan sepertinya si sopir agak heran hehe (mungkin biasanya penumpang lain tanya dulu). Sopir ramah, sopan, mobil juga relatif nyaman. Sopir memberitahu dia akan memulai perjalanan, sambil men-tap app-nya. Saya pikir bahaya juga kalau dia lupa. App Uber lalu menyatakan saya dalam perjalanan. Karena tujuannnya masuk mall, saya memberikan cash untuk biaya masuk. Ternyata di akhir perjalanan, yang mengakhirinya juga sopir dengan app-nya (entah apa ada timeout kalau sopir lupa?).

Dari obrolan dengan sopir, ternyata perekrutannya berbeda dengan di LN. Mereka berasal dari sopir rental dan harus daftar secara offline dengan menyerahkan SIM, KTP, KK dan SKCK. Bagus juga ada background check, cuma saya sendiri tidak yakin dengan SKCK. Jadi sepertinya kalau istri sendirian masih belum berani untuk saat ini.

Kesimpulan kelebihan dan kekurangan:
Kelebihan:

  1. Mobil mudah menjemput kita, layanan taksi reguler yang lain seringkali nyasar kalau menjemput di daerah saya.
  2. Bisa memonitor mobil yang menjemput.
  3. Tidak perlu menyiapkan cash.
  4. Bisa merating sopir –> beda dengan sopir taksi reguler yang sering seenaknya memperlakukan penumpang.

Kelemahan:

  1. Estimasi waktu penjemputan tidak akurat karena hanya berdasarkan jarak. Mobil yang berada jauh bisa “mengalahkan” mobil yang posisinya lebih dekat.
  2. Masih memerlukan kartu kredit.  Bagusnya bisa ada fasilitas potong pulsa lebih enak hehe.
  3. Meyakinkan bahwa Uber aman. Terutama untuk penumpang perempuan yang sendirian. Di India sudah disediakan panic button, tapi untuk Indonesia saya lihat tidak ada.  Mungkin khusus untuk penumpang perempuan perlu ada lapis tambahan keamanan, misal sopirnya sudah punya pengalaman minimal sekian bulan dst. Untuk yang ini taksi reguler masih unggul.

Menurut saya Uber ini punya potensi besar dan bisa menjadi alternatif taksi reguler. Mudah-mudahan tidak dilarang pemkot karena menurut saya bisa mengurangi kepadatan Kota Bandung.

 

Pilih Mana: Samsung Galaxy 6 Edge atau LG FLex 2?

Salah satu masalah dari smartphone Android adalah sulit membedakannya satu sama lain diantara beratus merk dan jenis. Smartphone 2jt terkadang sulit dibedakan dengan smartphone 8jt.  Mungkin ini yang menyebabkan iPhone masih tetap diminati. Bagi sebagian orang, penampilan smartphone adalah hal yang penting.

Menurut pendapat saya, sekarang ada dua jenis smartphone Android yang memenuhi kriteria ini: Galaxy 6 Edge dan LG Flex 2.

  

Sama-sama menggunakan layar yang fleksibel, kedua smartphone ini dijamin akan menarik perhatikan orang yang melihatnya.  Layar Edge 6 melengkung di sisi kiri dan kana sedangkan LG Flex melengkung seperti pisang.   Untuk apa layar fleksibel ini?

Selain untuk pembeda dengan smartphone lain dari sisi penampilan, sisi Edge 6 dapat digunakan untuk informasi dan shortcut tambahan. Misalnya pada saat HP off, maka informasi seperti jam, notifikasi dapat ditampilkan di sisi layar tanpa perlu menyalakan HP.  Saat menonton film,  tombol-tombol dapat diletakan di pinggiran sehingga tidak menggangu layar.  Demikian juga dengan shortcut kontak 5 orang utama. Sayangnya banyak review kurang positif tentang bagian sisi ini. Bentuknya membuat smartphone sulit dipegang, dan karena harus dicengkram sudutnya dapat membuat tidak nyaman.  Sering terjadi salah tap (atau malah tidak sensitif) untuk bagian edge.

Untuk LG Flex 2, lengkungannya memudahkan orang untuk menelepon karene mengikuti kontur muka (ingat HP Nokia pisang tahun 90-an?), membuatnya lebih mudah dipegang oleh satu tangan dan dimasukkan saku, terutama saku celana.  Rancangan yang fleksibel juga membuat LG Flex mampu menerima tekanan yang sangat besar tanpa rusak. Salah satu cara yang dilakukan sales adalah menekan dengan kuat LG Flex sampai rata dan ‘tring’ seperti pegas kembali ke bentuk semula. Ada yang mengklaim HP ini bisa menahan tekanan sampai 500 kg. Ini kontras dengan bend-gate yang ditimpakan pada iPhone dan Galaxy S6 (bengkok ketika ditekan hanya dengan tangan).  Fitur di LG Flex ini tentu menggiurkan untuk orang yang sering menjatuhkan HP seperti saya 🙂

LG Flex juga menawarkan fitur self-healing, yaitu bagian belakang dapat menghilangkan baret-baret ringan secara otomatis. Cuma dari beberapa review,  sepertinya  ini hanyaberlaku untuk baret ringan. Jadi tetap saja tidak bisa digabung dengan kunci.

Mengenai kamera, LG Flex mirip dengan LG-3, laser fokus. Dari yang saya coba di LG3, laser fokus tidak terlalu terlihat berpengaruh, mungkin lebih cepat tapi tidak terlalu signifikan.  Saya pikir ini berlaku untuk hal-hal lain seperti kinerja, batere dsb. Baik Galaxy 6  Edge maupun LG Flex 2 sama-sama smartphone highend. Dan walaupun prosesor/GPU cepat, tapi softwarenya biasa saja ya tetap tidak terlihat bedanya.

 

Pengalaman menggunakan 4G XL, 4G Indosat dan 4G Telkomsel di Bandung

simcard_kecil

Keterangan gambar: simcard 4G untuk XL, Simpati Telkomsel dan Indosat yang saya miliki. Hanya XL yang tidak mencantumkan kata 4G.

Kesimpulan: setelah menggunakan 3 operator 4G (Telkomsel, Indosat dan XL), kesimpulannya adalah kita wajib upgrade ke 4G. Bahkan jika belum punya device 4G sekalipun, upgrade sepertinya mempercepat internet di 3G (lagipula gratis dan tidak mengubah nomor). Dan bagi yang akan membeli smartphone, pilihlah yang support 4G, kalau bisa yang dual simcard malah. Kalau anda bilang “sekarang 3G sudah cepat kok”,  coba saja jika sudah mencicipi kecepatan 10-30 Mbps, tidak akan bisa balik lagi ke kecepatan rendah 🙂 Pengalaman yang membuat sulit kembali lagi ke kecepatan rendah: load video instagram hampir seketika, update app super cepat, video chat, youtube jadi lancar dengan resolusi tinggi dan browsing+download cepat. Kerugiannya mungkin cuma satu: kuota cepat habis. Apalagi kalau sedang tethering dengan laptop dan tidak sengaja ada update otomatis. Test kecepatan saja bisa menghabiskan banyak. Jika kecepatan mencapai 20Mbps dan digunakan maksimal (misal untuk download) maka kuota 1GB akan habis hanya dalam kira-kira 10 menit!

Catatan: Untuk dapat menggunakan 4G ada tiga syarat yang harus dipenuhi: USIM card sudah versi 4G, HP sudah mendukung 4G dan lokasi sudah tercover 4G.  Jika salah satu saja tidak terpenuhi maka tidak akan bisa menggunakan jaringan 4G dan otomatis diturunkan ke 3G/2G.  Kita sudah terhubung dengan 4G jika icon koneksi berubah menjadi seperti ini dengan tulisan “LTE” atau “4G” :

icon4g

Langsung loncat ke posting awal (lewati update-update).

Update   Jan 2017:
Ada yang aneh dari tagihan XL, paket HotRod 12GB yang biasanya 149rb menjadi 270rb (gambar bawah). Apakah memang naik? saya kontak account twitter @myxlcare dan diluar dugaan saya, tweet saya tidak dijawab! wow, kontras sekali dengan account cs twitter telkomsel dan indosat yang sangat cepat menjawab. Barusan saya coba kirim lagi keluhan via email, kita lihat apakah dijawab atau tidak. Masalah lain, beberapa bulan ini saya rasakan internet XL melambat dibeberapa tempat (nanti akan saya test lagi). Jadi sepertinya saya akan segera menutup nomor XL ini. Update: email dijawab sehari kemudian dan mereka meminta alamat dan tempat/tgl lahir (kenapa harus tunggu 24 jam?). Anehnya mereka juga menanyakan “password pasca bayar (jika ada)” wah, password? via email? lagipula saya tidak tahu apa yang dimaksud password pasca bayar. Harusnya password adalah sesuatu yang sangat tabu ditanyakan, bahkan oleh petugas resmi sekalipun. Bayangkan berapa orang yang menggunakan password yang sama untuk berbagai layanan (gmail, facebook, instagram dst) dan tidak menggunakan two factor authentication. Saat itu diberikan ke petugas XL, bisa jebol semua. Update: setelah 4 hari dari email laporan saya, tagihan dikoreksi menjadi 149rb. Sempat ditelepon oleh cs (sekitar 2 hari setelah email) yang menyatakan bahwa aduan sedang diproses.

Update Jan 2016:
4G XL dapat digunakan di Palembang, cakupannya masih sempit (tengah kota) dan kecepatannya masih rendah  (down 4.9 Mbps / up 1.32 ).

Walaupun saya sudah menggunakan Indihome, ternyata 4G sangat terpakai saat mau upload. Kecepatan upload Indihome selalu di kisaran 2Mbps, cukup untuk aktivitas normal, tapi jika ingin mengupload banyak foto dalam faktu singkat, cara yang paling cepat adalah menggunakan 4G.  Dengan kecepatan upload 15-25Mbps, 10 kali lipat lebih cepat daripada Indihome 🙂

Di Depok (daerah sekitar Margo City) Indosat 4G mendapat kecepatan 17.4/13.5.

Update Des 2015:

Dari perubahan peta cakupan, XL terlihat memperluas ke daerah Padalarang, Jatinangor (UNPAD), Lembang. Ke arah selatan sekarang mencakup sampai Kopo (telkomsel dan indosat belum sampai ke sana) dan tenggara mencakup daerah Batununggal. Bagus untuk XL 🙂

Saat ini yang memberikan kuota bonus 4G adalah XL dan Indosat. Kuota bonus 4G  ini tidak dapat digunakan di 3G. Kuota bonus XL diberikan setiap bulan (6GB, untuk paket 150rb), sedangkan Indosat (10GB) sepertinya hanya sekali saja (mudah-mudahan sih nanti rutin hehe).  Untuk kuota non bonus, bisa digunakan baik di 2G/3G maupun 4G. Untuk telkomsel ada paket yang ditambah extra 4G+Wifi, yang sepertinya juga hanya dapat digunakan di 4G, tapi belum saya coba. Ini strategi bagus karena banyak pelanggan 3G jadi ngiler lalu frustasi lihat bonus 4G nya hangus begitu saja dan akan terdorong untuk menggunakan 4G (saya mengalami hehe).

Paket 4G XL  paket 4G indosat

 

7 Des 2015: update test kecepatan 4G tiga operator; lokasi: Sarijadi Bandung; Jam: 19.00; HP: Nexus 5  (down/up /ping):

Indosat:  7.45 / 15.43 / 24ms
XL:  13.30/  6.25 / 41ms
Telkomsel: 29.43 / 22.65 / 25ms

Dibandingkan test agustus 2015 ada perubahan signifikan. Telkomsel melonjak tajam. Indosat juga meningkat dan XL merosot. Sepertinya jaringan 4G masih belum stabil. Kita lihat saja beberapa bulan kedepan. Catatan lain: kecepatan Indosat di UPI mencapai 23.88/15.98 dan di ITB mencapai 34.52/20.46. Bisa kenceng juga ternyata 🙂

Update Des 2015: Saat lihat sisa quota di app XL ada yang berubah. Tadinya untuk paket HotRod 149rb terdiri atas 6GB di 4G dan 6GB di 2G/3G.  Sekarang berubah menjadi 6GB 4G dan 6GB 2G/3G/4G. Wah  asyik kalau benar, jadi dapat 12GB 4G.  Tapi belum ada informasi tentang ini di website resmi XL.

Update Des 2015: Lihat promosi Indosat 4Gplus, ada gratis 10GB? wah menarik. Coba daftar, dapat pesan “Maaf Anda sudah tidak berhak mendapatkan program bonus tambahan kuota 10GB” 🙁   Kecepatan di Sarijadi juga tidak berubah (malah upload turun jadi 0.32 Mbps). Jadi apa arti kata plus di 4GPlus? <plus sedih hehe> Detil tagihan via email juga jadi hilang (jadi cuma selembar rekap). Indosat ternyata dibeli Oreo, eh Ooredoo ternyata sama saja. Update: beberpa hari kemudian dapat SMS bahwa menerima bonus 10GB! Mungkin bonus 10GB otomatis untuk pelanggan 4G?

Update 28 Nov 2015: ternyata tidak semua HP 4G  mendukung freq 900Mhz dan 1800Mhz. Masalahnya, dibeberapa tempat ketiga operator masih menggunakan freq 900 untuk 4G, walaupun katanya semua nanti akan diupgrade ke 1800. Ini daftar HP yang support baik 900 maupun 1800: [gsmarena.com] sedangkan untuk yang dual SIM 4G: [gsmarena.com] Saya pribadi sedang mencari HP 4G dual SIM, dengan harga 2jt-an  dan memori minimal 2 GB; setelah lihat-lihat dan cek silang di Tokopedia alternatifnya adalah: Asus Zenfone Laser 2 ZE 550KL, ZD551KL,  Lenovo Vibe 1Pm, dan ZTE Blade S6.  Perbandingkan spesifikasi ketiganya dapat dilihat di: [gsmarena.com]   Dari ketiganya, saya tertarik dengan Asus karena ukurannya paling besar, kameranya menggunakan laser autofokus + dual flash (sebenarnya tidak signifikan lebih cepat, tapi artinya mereka serius mengurusi kamera) dan sudah support GPS+GLONASS sehingga posisi lebih cepat terupdate. Paling murah adalah Lenovo, baterenya paling besar kapasitasnya, tapi kamera paling rendah resolusinya dibandingkan yang lain. Update: Lenovo A7000 juga dapat jadi kandidat menarik, prosesornya lebih cepat daripada zenfone.

Catatan: Khusus untuk Asus Zenfone harus super hati-hati untuk tipe Laser 2 ini karena banyak variannya. Sebagai contoh, Laser 2 ZE550ML yang namanya hanya berbeda satu huruf dengan ZE550KL sama-sama dual-sim tapi untuk yang ML sim kedua hanya support 2G! (gila, fatal kalau kebeli).  Untuk ZD551KL, saya mengincar bukan untuk selfie (kamera belakangnya 13mpixel+flash!)  tapi karena resolusi layarnya HD, sayangnya mendekati 3jt.

Update Nov 2015:  Jalan-jalan ke Lombok, saya terkesan dengan XL. Mulai dari daerah Sengigi, Mataram sampai Kuta, bisa dapat sinyal 4G. Di Mataram,  kecepatan mencapai 10Mbps down/17 Up. Indosat? seringnya malah dapat GPRS saja. Telkomsel sayangnya tidak saya coba.

Update Oktober 2015:
Akhirnya saya pasang Indihome Tripleplay (catatan saya untuk pemasangan Indihome).  Karena kalau dihitung, biayanya jauh lebih murah. Biaya internet yang tadinya sekitar 700rb (bertiga) + tv satelit 350rb berkurang jadi 400rb saja dengan Indihome, hemat sekitar 600rb sebulan dengan internet yang bisa dipakai sepuasnya tanpa khawatir dengan kuota, lumayan kan? Sekarang paket data Telkomsel sudah saya stop. Indosat hanya saya gunakan paket 50rb, itupun tersisa 1GB di akhir bulan.  Untuk XL, lebih parah lagi, sisa 6GB dari 12 GB. Untuk XL ini mau saya stop juga tapi masih terikat bundling sampai Feb 2016 (dulu beli untuk dapat discount beli HP LG3). Jadi posting tentang 4G ini kemungkinan tidak akan banyak diupdate lagi 🙂  Berita lain, 4G XL sudah ada di UPI, tapi kecepatannya hanya 5.5Mbps.

Update Des 2015:
Berikut snapshot cakupan 4G untuk Telkomsel, XL dan Indosat untuk daerah Bandung dan sekitarnya. Tapi untuk update yang terbaru atau zoom ke detil wilayah, silahkan saja cek ke website resmi masing-masing operator.

Cakupan 4G Telkomsel: http://internet.telkomsel.com/4g-lte/coverage_area

cakupan_telkomsel_kecil

 

Cakupan 4G XL:   http://4g.xl.co.id/maps  (klik gambar bawah untuk memperbesar)

 

cakupan 4G XL

Cakupan 4G Indosat:  http://indosatooredoo.com/coverage/Coverage/Super4GLTE (klik gambar untuk memperbesar)

indosat

 

Cakupan 4G Smartfren: http://www.smartfren.com/id/jangkauan/

ScreenHunter_80 Nov. 08 18.42

 

 

Update 3 Sept: Sinyal 4G Indosat seringkali hilang jika dimasukkan kantong celana. Mungkin mirip seperti XL dulu, masih dalam taraf ujicoba.

Update 21 Agustus: Ada satu operator 4G lagi yang masuk Bandung yaitu Smartfren. Sayangnya ini CDMA sehingga harus beli HP dari Smartfren atau menggunakan modem. Dari peta cakupanmya, sepertinya semua Bandung masuk, walaupun sepertinya agak aneh tercakup dengan lengkap seperti itu (4G operator lain biasanya tidak mencover lengkap seluruh wilayah). Nanti kalau mampir ke BEC saya akan coba ke galeri Smartfren.

Update 17 Agustus:  Saat yang ditunggu, membandingkan kecepatan ketiga operator untuk 4G!  Dilakukan di rumah (Sarijadi), jam 18.15  dengan Nexus 5. Hasilnya, kecepatan download dalam Mbps adalah Indosat=4.14, Telkomsel=2.11 dan XL=35.32.  Jadi XL tercepat untuk 4G, juga untuk uploadnya yang mencapai 10Mbps. Kecpatan XL yang mencapai 35Mbps diluar dugaan, mungkin karena untuk berlangganan paket 4G-nya lebih mahal. Sedangkan jika diubah ke 3G HSDPA, kecepatannya adalah: Indosat=1.22, Telkomsel= 12.28 dan XL=6.78. Anomali untuk Telkomsel yang 3Gnya malah lebih cepat daripada 4G.

Update 16 Mei: 4G LTE Telkomsel untuk wilayah Sarijadi Bandung (pagi) kecepatannnya 3.5Mbps, saat diganti ke HSDPA (3G) malah naik ke 7Mbps. Anehnya saat siang 4G naik ke 12Mbps dan 3G 10Mbps (biasanya siang lebih lambat). Sedangkan 4G XL mencapai 9Mbps di siang hari.

Update 2 Mei: 4G Indosat sudah masuk Bandung, penukaran SIM card harus di Galeri Indosat  Jln. Asia Afrika. Dari peta coverage sepertinya hampir pusat Kota Bandung sudah masuk. Sayangnya UPI tidak masuk, dan ITB hanya sebagian. Daerah Sarijadi juga sebagian tapi rumah saya masuk 🙂 Posting akan saya update setelah saya ganti kartu.

Update 9 April: 4G XL dan 4G Telkomsel ada di area ITB (XL mencapai 17Mpbs sedangkan Telkomsel 14Mbps), tapi sayangnya untuk UPI tidak ada untuk keduanya 🙁 Ini berarti peta cakupan 4G yang diberikan oleh XL akurat. Menariknya, dari ujicoba di beberapa tempat 4G XL selalu unggul dalam segi kecepatan dibandingkan 4GTelkomsel.

Update 13 April: Penasaran dengan bonus gratis 1 GB per hari dari XL, saya cari-cari di internet tidak menemukan info lokasinya dimana. Setelah tanya XLcare, ternyata hanya 3 tempat di Indonesia: IPB Darmaga, UGM dan USU. 🙁

Update 20 April:  Kecepatan XL di rumah  turun menjadi 7Mbps (dari tadinya 15an). Mulai banyak yang menggunakan?  Mudah-mudahan trendnya tidak turun terus.

-end update-

 


 

Indosat:

Update 14 Agustus: Akhirnya menukar kartu Indosat ke 4G. Harus di galeri Asia Afrika (buka dari jam 8 sd 20). Prosesnya gampang, tinggal tunjukkan KTP, tandatangan formulir dan langsung beres (karena pasca bayar?). Langsung aktif dan saat dicoba di galeri Indosat kecepatannya mencapai 22 Mbps baik untuk down maupun up. Di BTC Pasteur mendapat 12Mbps. Sayangnya setelah sampai rumah (Sarijadi) kecepatannya turun ke 7 Mps untuk down dan 3 untuk up. Bahkan jika bergeser beberapa ratus meter ke utara Sarijadi sinyal 4G nya hilang (sesuai peta coverage Indosat). Tapi ini tetap lebih baik dibandingkan 3G sebelumnya yang hanya mencapai 1 sd 2Mbps.  Di UPI tidak ada sinyal 4G sedangkan di ITB ada tapi sangat lambat (gagal ditest kecepatannya).

Untuk harga, Indosat juga masih lebih murah dari Telkomsel: 100rb dapat 7GB/bulan (3GB super internet 49rb ditambah 4GB paket ekstra 50rb). Bandingkan dengan paket android  TAU telkomsel 50rb hanya dapat 2GB (tanpa TAU bahkan 75rb utk 2GB). Lalu jika dibandingkan dengan XL, 150rb mendapat 6GB 4G dan 6GB 3G. Jadi untuk 4G indosat relatif paling murah.

XL:

Saat istri membeli LG 3, kami membeli dengan paket XL pasca bayar HotRod 12 GB/bulan selama 12 bulan agar dapat cashback 🙂  Sayang petugas XL-nya tidak tahu bahwa dari 12 GB itu ternyata 6GB-nya untuk 4G. Wajar saya jadi semangat saat ada pengumuman XL menghadirkan 4G di Bandung.    Karena kuota XL terpisah untuk 4G dan 3G, untuk “memaksa” agar XL selalu menggunakan 4G  dapat digunakan menu *#*#4636#*#* –> phone info –> Set Preferred Network Type –> LTE only.   Pada Nexus ini bisa dilakukan, tapi mungkin ada beberapa smartphone yang tidak mengijinkan menu tersebut.

Tukar kartu di XL center Jalan Martadinata, lancar dan cepat, tapi… tidak dapat sinyal 4G. Katanya karena tidak menggunakan iPhone (huh?)   Sampai rumah di Sarijadi, sinyal 4G juga tidak ada, padahal harusnya di rumah dapat sinyal. Penasaran, berbekal info peta dari 4g.xl.co.id saya dekati towernya yang berada di jalan Lemah Neundeut sampai 50 m, tetap saja tidak dapat sinyal  4G 🙁     Terakhir, akan saya coba di pusat belanja dan saya update posting ini.

Sisi bagusnya,  kecepatan 3G XL sepertinya meningkat di kisaran 4Mbps dari tadinya 1-2 Mbps.  Tapi tetap saja, punya bonus 6GB yang hangus tiap bulan itu menyebalkan.

Update 6 April:  sekarang di rumah sudah mendapat koneksi 4G XL 🙂  Saya pasang 4G Telkomsel, dan saat saya ganti kartunya dengan 4G XL,  wah, dapat sinyal LTE. Kebetulan atau memang baru dinyalakan 4Gnya? Kecepatan juga diatas 4G telkomsel (mencapai 13 Mbps).  Bahkan saat mencoba di Ciwalk, saya mendapat sampai 30 Mbps.
-end update-

Telkomsel:

Untuk Telkomsel, penukaran agak ribet karena mungkin nomor yang saya miliki adalah prabayar sehingga perlu verifikasi 5 nomor yang paling sering dihubungi (susah karena tidak hafal, bukan nomor utama) dan antrian lama. Ada rekan istri yang gagal menukar gara-gara selama ini nomor telkomselnya hanya digunakan untuk internet.

Sampai rumah, dapat sinyal 4G Telkomsel  walaupun lemah. Kecepatan di 4G tidak tinggi (4Mbps) tapi untuk 3G-nya ada peningkatan yang signifikan dari 4 Mbps menjadi 10 Mbps.  Saat anak saya coba di Mall Paris van Java, dia  mendapat sinyal penuh 4G dengan kecepatan mencapai 20 Mpbs.

Kesimpulan, kartu tetap layak ditukar karena kecepatan di 3G meningkat. Tapi jangan terlalu berharap dulu dengan 4G-nya. Mungkin berbulan-bulan lagi baru terlihat bedanya setelah urusan frequensi dibereskan.

Catatan: kecepatan dalam posting ini diukur menggunakan app SpeedTest.

Perbandingan Kecepatan 4G dan 3G XL vs Telkomsel vs Indosat

Lokasi: Sarijadi Bandung, 17 Agustus 2015, sore hari menggunakan Nexus 5.

Hasil lengkap download/upload/ping dalam Mbps/Mbps/ms

Untuk 4G:
Indosat=4.14 / 2.66 / 43
Telkomsel = 2.11 / 0.47 / 33
XL = 35.32 / 10.34 / 40

Untuk 3G HSDPA:
Indosat = 1.22 / 1.37 / 80
Telkomsel = 12.28 / 4.48 / 58
XL = 6.78 / 1.95 / 50

Perbandingan Nexus 5 dengan Android One (Nexian Journey One)

Update Des 2015: Nexus 5 mengalami masalah, tidak bisa dinyalakan. Kalau dinyalakan sambil dicharge, yang keluar hanya logo Google, lalu mati, logo Google lagi dan seterusnya loop. Setelah saya cari-cari di internet, ternyata penyebabnya adalah tombol on-off tersangkut (ternyata banyak terjadi di Nexus 5).  Solusinya bisa dengan mengetuk-ngetuk layar di bagian kanan atas, tapi tidak lama bermasalah lagi. Solusi yang lebih ideal dengan menganjal tombol dengan kertas tipis. Saya coba bongkar, tapi terbentur dengan tidak bisa membuka baut yang ada di dalam hehe. Saya ketuk-ketuk saja HP yang setengah terbuka, ternyata berhasil. Kadang masih timbul penyakitnya (mati sendiri), tapi sudah jarang. Kesimpulannya: HP lebih mahal tidak menjamin kualitasnya lebih bagus juga.

Update 8 Oktober 2015: Android One adalah device saya yang pertamakali mendapat update ke Android M. Setelah instalasi ada pilihan untuk menggunakan SD card sebagai memori internal (memang sebelumnya belum?) Bagusnya ini membebaskan 1.25GB memori untuk foto. Selanjutnya kita bisa menset agar app menggunakan SD card. App seperti Mix Radio, Line, Kindle dapat dipindahkan. Walaupun app milik Google seperti Play Book tidak bisa.

Update 30 September 2015:  Infinix Hot2 masuk ke jajaran Android One. Dari spesifikasinya, dibandingkan Android One versi sebelumnya (Nexian, Evercrss dan Mito) maka yang ini punya layar lebih besar dan lebih baik resolusinya, memori lebih besar, penyimpanan lebih besar, resolusi kamera lebih tinggi. Harga 1.3 jt di Lazada.

Update 22 Agustus: setelah beberapa bulan menggunakan Android One dan menginstal banyak app, saya terkesan dengan kinerjanya yang tetap optimal (tidak tersendat-sendat).  Cuma memang kameranya benar-benar tidak bisa digunakan karena kualitasnya rendah. Waktu charging-nya juga jauh lebih lama dari Nexus.–end update

Begitu baca judulnya mungkin ada yang langsung protes “woy, itu beda kelas!” 🙂 Saya sudah menggunakan Nexus dari Galaxy Nexus, Nexus 4 dan Nexus 5. Sebagai user yang jarang main game, hanya menggunakan beberapa app seperti Instagram, Twitter, News Stand, Play Book, ternyata Android One sangat cocok dengan saya.

Alasan saya memilih produk Google (Nexus & Android One) hanya satu: tidak ada bloatware (app yang ditambahkan oleh pabrik smartphone) dan OS Android versi baru diupdate cepat via OTA. Ya saya tahu kita bisa rooting dan ganti OS sendiri, tapi dengan OTA proses update simple dan data tidak hilang, dan itu yang penting bagi saya.

Ada tiga produsen Android One yang walaupun merknya beda tapi barangnya sama persis: Mito (Mito Impact), Evercross (Evercross One X) dan Nexian (Nexian Journey One).  Spesifikasi ketiganya sama persis, jadi tidak perlu repot-repot: pilih saja yang paling murah! Saya  cari di Dukomsel dan BEC, yang ada hanya Mito dan Evercross dan harganya mahal: 1.5 jt. Nexian yang paling murah (1jt)  tapi harus beli online di Lazada. Ditambah discount ultah Lazada, Nexian Journey One bisa dibeli 900 rb 🙂  Bagusnya dua hari barang sampai.

Kita bahas kelebihannya dulu dibandingkan Nexus 5:

  1. Stock Android 5.1 dengan harga paling murah. Setelah merusak Nexus 4 karena jatuh dan Nexus 5 karena kemasukan air, saya mulai berpikir tentang harga HP yang terlalu mahal dan tidak sepadan dengan resikonya.
  2. Kinerja bagus, semua halus dan cepat, saya tidak bisa membedakan dengan Nexus 5.  Mungkin baru di game dan app berat akan terasa bedanya. Build quality juga bagus.
  3. Kecil dan ringan, enak dibawa di kasur. Saat menggunakan nexus 5, HP sulit diletakan di saku baju karena menonjol ke luar dan pegel kalau digunakan sambil tiduran.
  4. Radio FM dan dual sim card. Saya menggunakan Indosat (nomor saya sejak 15 thn yang lalu), tapi sialnya kualitas sinyal internet Indosat sering lebih buruk dibandingkan Tsel.  Jadi untuk internet saya menggunakan Tsel, untuk SMS dan telp menggunakan Indosat.
  5. Simple, sederhana. Saya suka hal-hal yang sederhana. Saya belum membutuhkan fitur seperti wireless charging, NFC dsb.

Nah sekarang  kelemahannya (ingat harga ya hehe):

  1. Kamera jelek. Ada nuansa pink di tengah dan butuh waktu lama sebelum mengambil gambar. Dibandingkan Nexus 5 yang menggunakan image stabilizer kalah jauuh. Saya bukan maniak foto, tapi saya juga pengguna Instagram yang kadang mengupload foto, jadi ya agak sedih juga.
  2. Batere boros dan butuh waktu lama untuk diisi penuh. Walaupun menggunakan charger 2A, tetap saja lama.
  3. Resolusi  terasa rendah untuk membaca buku (Play Book).
  4. Tidak mendukung 4G, sebelum membeli HP ini saya belum mengupgrade sim ke 4G. Sekarang jadi hal yang penting 🙁

Kesimpulannya,  HP Android One (yang harganya 1jt),  sudah sangat sepadan dengan harganya. Kualitas diatas ekpektasi.

Pilih Mobile Web App atau Native App?

Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tapi seperti halnya webapp dan native untuk PC, web app akan semakin penting perannya.

Kelebihan mobile web app (sekaligus kelemahan native app):

  • Multiplatform:  sekali dibuat dapat langsung dijalankan di Android, iPhone, BlackBerry, WindowsPhone yang memiliki browser.
  • Lebih murah dan mudah dikembangkan. Teknologi yang digunakan lebih standard sehingga SDM lebih banyak tersedia (misalnya PHP+MySQL).
  • User interface dapat dibuat konsisten untuk multiplatform.
  • Tidak bergantung pada Google Play atau app store. Tidak perlu menunggu disetujui sebelum app dapat digunakan pengguna. Setiap revisi langsung dapat diakses pengguna.
  • JIka ada transaksi, dapat memanfaatkan berbagai media (seperti paypal) atau ditangangani sendiri. Tidak akan mendapatkan potongan 30% seperti jika melewati Google Play.

Kelemahan web app (sekaligus kelebihan native app):

  • Lebih lambat
  • Membutuhkan koneksi internet. Walaupun sudah ada mekanisme offline di browser, tetapi webapp umumnya mempunyai ketergantungan tinggi pada koneksi internet.
  • Tidak dapat memanfaatkan secara maksimal fitur-fitur smartphone (misal share antar app).
  • Tidak dapat memanfaatkan (atau kalaupun bisa sulit)  sensor yang dimiliki smartphone/tablet seperti kamera, accelerometer, gyroscope dan lain-lain.
  • Tidak dapat memanfaatkan in-app billing. Dengan Google Play, pengguna dapat melakukan pembelian membeli dengan sangat mudah.
  •  Lebih sulit jika ingin menjual app.  Pengguna sudah terbiasa dengan web app yang gratis.
  • User interface lebih sulit dipahami. Setiap platform (Android, iOS, WindowsPhone) punya karakter user interface tersendiri.