Grabtaxi di Bandung

Update Mei 2016: Pengalaman saya menggunakan Gojek

Update Maret 2016:  Pengalaman saya menggunakan app Bluebird.

Lanjutan dari posting pengalaman menggunakan Uber

Update Mei 16: GrabCar sudah ada di Bandung (gambar bawah). Tapi masih sedikit sepertinya, belum saya coba. User interface juga lebih baik, sekarang peta flat dan sudah menunjuk ke lokasi yang memang ada dekat rumah.

grab-car

Update Mar 16: selain Taksi Cipaganti, Ekspress sekarang sudah ada taksi Gemah Ripah yang menggunakan Grabtaxi. Katanya memang sopir gemahripah masih jarang yang menggunakan ini.

Saya sudah dengar grabtaxi dari lama, cuma setiap kali install, belum ada taksi yang tersedia di Bandung. Hari ini, iseng istri menginstall dan sudah ada taksinya! 🙂   Masih sedikit taksi yang tersedia tapi biasanya nanti akan banyak juga. Tampilan peta-nya dimiringkan, saya sebenarnya lebih suka yang datar 2D saja. Lokasi pickup otomatis disesuaikan ke tempat-tempat yang umum seperti restoran.  Di situs grabtaxi.com, Bandung belum masuk. Saat saya tanya via Twitter tidak ada jawaban, ini berbeda dengan Twitter Uber yang lebih responsif. Ya sudah, langsung coba saja.

Istri akhirnya mencoba grabtaxi. Percobaan pertama dari rumah gagal, masalahnya grabtaxi mewajibkan lokasi pickup yang berlabel. Mungkin kalau tempatnya populer tidak masalah, tapi kalau perumahan?  Seperti contoh (gambar bawah), tidak ada yang namanya Pondok Seafood Sarijadi di sekitar rumah saya. Seingat saya ini sudah lama tutup.  Jadi sebelum pesan kita harus bergerak ke tempat yang ‘populer’. Tapi tempat makan yang besar di sekitar rumah kami justru malah tidak ada di GrabTaxi :(.

 

grabtaxi

Percobaan kedua dari kampus ITB. Untuk yang ini berhasil, pada lokasi pickup tersedia “Teknik Informatika”.  Setelah memasukkan tujuan, langsung muncul info sopir yang akan menjemput (taksi Cipaganti). Nah masalahnya, ternyata lokasi taksi di grabtaxi tidak seperti Uber yang realtime terlihat bergerak. Lokasinya lama diam dan tiba-tiba meloncat, apa ini karena supir taksinya meletakkan HP di tempat yang tidak terjangkau sinyal GPS? Tapi memang dari awal, berbeda dengan Uber yang posisi mobilnya terlihat aktif bergerak, posisi taksi di grabtaxi  sepertinya lebih statik (mungkin karena taksi memang lebih banyak ngetem dibandingkan Uber?).

OK, kembali ke pemesanan, karena lama menunggu, istri menelepon dan supir bilang sudah sampai ke gedung Teknik Informatika dan Elektro, ternyata supir nyasar satu gedung ke Labtek 8 (Elektro), padahal istri di labtek 5 (Informatika). Tidak jauh sih, tinggal jalan sedikit saja. Tapi ini berarti supir juga melihat lokasi bukan posisi eksak seperti Uber, tetapi dari label. Labtek 8 memang memiliki tulisan Teknik Informatika dan Elektro (kelemahan ITB memang nama gedung tidak jelas, tidak ada plang di depan gedung).

Pembayaran seperti halnya taksi standar yang menggunakan argo. Kalau misalnya ada potongan discount apa kita yang harus tanya? apa sopir yang bilang ya?  Kalau Uber, dengan kartu kredit jadi praktis, tidak perlu menyiapkan uang.

Kesimpulan: label lokasi penjemputan sangat penting di GrabTaxi, berbeda dengan Uber yang menggunakan posisi eksak. Di satu sisi ini mungkin menguntungkan karena banyak orang yang tidak melek peta dan teknologi sehingga bisa saja saat memesan lokasinya melenceng, tapi  di sisi lain, repot kalau di tempat penjemputan tidak ada label lokasi yang pas. Perbedaan lain: Grabtaxi menggunakan taksi resmi dan Uber menggunakan mobil biasa plat hitam. Taksi punya kelebihan tidak terkena aturan 4 in 1, dan dapat masuk ITB dengan bebas (uber kadang bisa masuk ITB tapi kadang dicegat satpam). Sedangkan kelemahan Grabtaxi adalah tidak dapat menggunakan kartu kredit, harus tunai, sedangkan Uber justru sebaliknya walaupun sekarang katanya Uber sudah bisa menerima pembayaran tunai.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.