Pengalaman Mencoba App My BlueBird

Update Okt 2016: Istri saya mencoba lagi app ini dan berbeda dengan pengalaman pertama, sekarang sopir bluebird nyasar. Bagusnya, seperti halnya uber, sekarang bisa melihat lokasi mobil yang dipesan, jadi ketahuan saat sopir nyasar. Setelah ditelepon dua kali tidak diangkat akhirnya terpaksa dibatalkan. Dugaan saya entah sopir tidak menggunakan app (masih via operator radio) atau sopirnya buta peta digital.

Update: Mei 2016, ada update besar-besaran aplikasi BlueBird.  Tampilannya modern, pendaftaran lancar (tidak ada lagi kasus nama cuma diberi 10 karakter). Posisi mobil Bluebird juga terlihat di peta; dan ada fasilitas bayar dengan voucher (katanya ada kartu kredit tapi saya tidak lihat dimasukkannya dimana). Nanti akan saya update lagi setelah saya coba pesan.

Ribut-ribut masalah Uber vs Bluebird yang menyebabkan demo besar-besaran membuat saya penasaran mencoba app BlueBird.  Nanti bisa dibandingkan dengan review saya tentang app Uber dan Grab Taxi. Dulu pernah coba app My BlueBird ini,  tapi langsung bermasalah dan saya uninstall, mudah-mudahan sekarang sudah berbeda.

Dibandingkan app Uber dan Grab, ada isu nasionalisme juga disini. BlueBird adalah perusahaan lokal jadi saya sangat berharap mereka dapat bersaing dengan app impor. Saya pribadi akan memilih Bluebird jika kualitas appnya sebanding dengan Uber.

OK sekarang mulai review. Saat daftar, user interfacenya kurang rapi dan perlu diupdate dengan standard sekarang. Tapi tidak terlalu jadi masalah bagi saya, karena  yang penting fungsi, UI itu hanya pelengkap saja. Tapi saya kaget karena untuk nama dibatasi maksimal 10 karakter. Ini membuat saya tidak dapat memasukkan nama lengkap. Sangat aneh, semua sistem saat ini ingin mempunyai data nama yang lengkap, mulai dari nama depan, nama tengah dan nama belakang (bahkan gelar), sedangkan ini kok sebaliknya. Proses selanjutnya (verifikasi no telp dengan SMS) lancar.

Saat saya mau pesan, saya heran kenapa peta di app ini hanya menunjuk ke Gedung Sate? ternyata GPS saya belum di-enable. Ini berbeda dengan Uber yang memberikan peringatan dan mewajibkan kita meng-enable GPS.  Lalu keheranan kedua adalah tidak ada informasi mobil taksi yang berada di sekitar kita. Mengingat jumlah armada Bluebird yang besar, sangat disayangkan fitur ini tidak ada. Ya sudah,  mungkin saat saya pesan nanti info posisi taksinya akan keluar.

Kemudian saya pesan. Bagusnya, ada opsi kalau kita mau ke bandara (kalau ke bandara memang urusan waktu jadi serius) dan ada batasan waktu minimal yang kita inginkan (default 10 menit). Mirip dengan GrabTaxi, keluar lokasi yang bisa dipilih. Bedanya, kalau GrabTaxi lebih fokus pada POI (Point of Interest) seperti restoran, maka Bluebird lebih fokus ke nama jalan. Saya pilih jalan dan.. ternyata saya harus memasukkan alamat lengkap (uh).  Apa gunanya GPS kalau harus  memasukkan alamat lengkap 🙁   Untuk isian alamat ada nomor rumah. Karena rumah saya menggunakan sistem blok, maka saya mau memasukkan blok dan nomor “Blok XX no XX” dan… aarghh tidak bisa! karena ternyata karakternya dibatasi lagi!  Saya tidak tahu apa yang dipikiran si pengembang yang pelit dengan jumlah karakter, apa mungkin mantan pengembang jaman DOS thn 90an dulu yang PC-nya cuma punya memori 640KB?  Untungnya informasi blok dapat dimasukkan ke field kedua (alamat tambahan).  Di field ke-3 ada isian untuk menambahkan keterangan tambahan. Saya masukkan restoran yang dekat rumah (tetap harus diketik). Selesai. Ada pilihan save sehingga tidak perlu mengetik lagi dikemudian hari (saya belum coba). Setelah pesan, ada tulisan mencari kendaraan, dan setelah refresh (kenapa harus ada menu refresh?) keluar nomor taksi dan nama sopir. Sempat terjadi force close, tapi saat dibuka kembali order tidak hilang.

Selanjutnya saya berharap dapat melihat posisi taksi yang bergerak mendekati kita. Tapi tidak, peta tetap kosong. Padahal ini fitur yang sangat penting. Karena terbiasa dengan Uber dan Grab yang lokasi taksinya dapat dimonitor di peta, menunggu taksi jadi proses yang menyiksa. Tidak ada fasilitas menghubungi sopir langsung baik via telp atau SMS. Semoga saja sopirnya tidak nyasar.  Untungnya 10 menit kemudian taksi datang. Nomor taksi cocok, saat saya masuk mobil dia tanya “Pak  Yudi?”. OK, setidaknya nama yang maksimal 10 karakter tersebut ada gunanya hehe (bagaimana kalau nama lebih dari 10 karakter? ya mungkin gunakan nama panggilan saja).

Fitur lain yang saya rasakan kurang adalah membayar dengan kartu kredit dan sharing perjalanan yang penting untuk istri yang berpergian sendiri.

Saya lirik sopir ternyata dia tidak menggunakan app.  Artinya  order saya disampaikan via radio. Pantas saja GPS jadi tidak relevan, alamat harus lengkap dan tidak ada fasilitas tracking taksi.  Jadi app My BlueBird ini sebenarnya hanya perpanjangan dari sistem order lewat telepon.  Saya jadi lebih paham masalahnya. Berbeda dengan Uber dan Grab yang app-nya menjadi inti penting dari perusahaan, di BlueBird app hanya pelengkap, dan proses bisnisnya sendiri tidak berubah atau memang tidak mau diubah.

IMHO, kalau saya jadi direktur BlueBird, akan saya buat devisi khusus app yang terpisah dengan divisi IT dan membuat ulang semuanya dari awal.  Perlu perombakan  total prosesnya dari ujung ke ujung.  Tidak hanya software, tapi juga proses bisnis termasuk SDM-nya.  Divisi ini bisa mengembangkan app tanpa harus terikat dengan sistem IT yang lama dan batasan-batasan lain.

Posted in app

2 comments on “Pengalaman Mencoba App My BlueBird

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.