Pengalaman Menggunakan App Uber di Bandung

Update Des 2015:  GrabTaxi sudah tersedia di bandung, ini posting pengalaman menggunakan grabtaxi.

Update Des 2015:  Ngobrol dengan sopir, katanya sekarang kalau mau bergabung jadi sopir sudah bisa langsung tanpa harus bergabung dengan koperasi/perusahaan travel.  Lalu dari sisi sistem: saat kita pesan, maka yang mendapat tawaran adalah  yang lebih dekat dulu. Jika tidak mau, maka otomatis sopir akan offline untuk sementara (sebagai punishment?).

Update 28 Nov 2015: Istri akhirnya mencoba Uber sendiri.  Maunya menggunakan kartu kredit saya yang kedua (saya tidak tahu apakah satu kartu kredit bisa digunakan di dua acc uber?). “Limit kartu mas kan lebih rendah daripada punya saya, kalau ada apa-apa dengan kartu kreditnya lebih aman ” <gubrak>.  Tentu dengan kode referensi saya, biar dapat gratis 75rb hehe.  Untuk percobaan kedua, supir uber yang apply lebih dekat, cuma sayangnya dia agak berputar-putar. Sepertinya masih belum ada navigasi bagi supir untuk menuju tujuan. Nomor plat mobil juga beda, si supir beralasan mobil turun mesin. Mobilnya juga bau rokok kata istri saya.   Untuk memonitor istri,  ternyata ada fitur untuk menshare perjalanan, jadi kita bisa lihat posisi istri setiap saat.  Ini penting karena istri saya pergi sendiri.  Perjalanan pulang istri menggunakan uber juga. Yang ini mobilnya lebih bagus dan bersih, supir juga mengirim SMS untuk memberitahukan  bahwa jalanan agak macet. Intinya istri puas menggunakan Uber, saya juga puas karena tidak perlu bermacet-macetan 🙂

Update Nov 2015: berdasarkan keyword yang masuk, sepertinya banyak yang mencari info tentang bagaimana menjadi supir Uber Bandung.  Dari Twitter Uber, saya lihat cara yang harus dilakukan adalah mengirim email ke partners.bandung@uber.com Saya dukung, semakin banyak supirnya semakin bagus 🙂  Katanya sekarang sudah ada 150 mobil uber di Bandung.

Beberapa hari ini, app Uber mulai dapat digunakan di Bandung (baru UberX). Bagi pengguna smartphone aktif, tentu lebih menyenangkan menggunakan app ini dibandingkan cara reguler dengan menelepon call centre taksi yang ribet. Kemarin saya mencoba untuk perjalanan pendek dan hasilnya cukup memuaskan. Langkah-langkahnya sederhana, install App Uber untuk Android, isi data termasuk kartu kredit (ini yang mungkin susah bagi yang tidak memiliki kartu kredit). Uber akan memverifikasi nomor telepon dan email. Untuk pesan tinggal tap button dan saat ada pengemudi uber yang bersedia langsung kita bisa monitor pergerakannnya, ditambah ada info foto, nama dan no plat mobil. Tadinya saya pikir harus menentukan dulu tujuan, tapi ternyata tidak.

Nah repotnya, saat saya mau pesan saya melihat ada mobil Uber yang dekat sekali, tapi sayangnya dia kalah cepat dengan mobil yang jauh. Jadi sepertinya Uber memberikan kesempatan bagi pengemudi dalam jarak tertentu dengan pemesan untuk berlomba siapa cepat siapa dapat (tidak memprioritaskan jarak dengan pemesan). Tapi tahu sendiri kan kondisi lalulintas di Bandung yang sering macet, jarak itu tidak berbanding lurus dengan waktu tempuh. Akibatnya prediksi waktu penjemputan Uber yang lima menit molor menjadi 30 menit. Bagusnya saya bisa monitor posisi mobil penjemput sehingga tidak terlalu kesal juga menunggu. Cuma kalau misalnya untuk mengejar pesawat bisa gawat tuh. Saran saya: sebaiknya ada prioritas berdasarkan kedekatan dengan lokasi pemesan.

App untuk si sopir sepertinya tidak memberikan bantuan navigasi suara, jadi mobilnya jalan terus tidak berhenti di posisi jemput hehe (kelewat). Terpaksa saya telpon (ada fasilitas kontak di App Uber) dan meminta sopir untuk putar balik dengan memberikan ancer-ancer posisi. Saran saya: app ini bagusnya menyediakan fasilitas tambahan deskripsi tempat penjemputan, misal di depan restoran X dst.

Saya dan istri langsung naik, dan sepertinya si sopir agak heran hehe (mungkin biasanya penumpang lain tanya dulu). Sopir ramah, sopan, mobil juga relatif nyaman. Sopir memberitahu dia akan memulai perjalanan, sambil men-tap app-nya. Saya pikir bahaya juga kalau dia lupa. App Uber lalu menyatakan saya dalam perjalanan. Karena tujuannnya masuk mall, saya memberikan cash untuk biaya masuk. Ternyata di akhir perjalanan, yang mengakhirinya juga sopir dengan app-nya (entah apa ada timeout kalau sopir lupa?).

Dari obrolan dengan sopir, ternyata perekrutannya berbeda dengan di LN. Mereka berasal dari sopir rental dan harus daftar secara offline dengan menyerahkan SIM, KTP, KK dan SKCK. Bagus juga ada background check, cuma saya sendiri tidak yakin dengan SKCK. Jadi sepertinya kalau istri sendirian masih belum berani untuk saat ini.

Kesimpulan kelebihan dan kekurangan:
Kelebihan:

  1. Mobil mudah menjemput kita, layanan taksi reguler yang lain seringkali nyasar kalau menjemput di daerah saya.
  2. Bisa memonitor mobil yang menjemput.
  3. Tidak perlu menyiapkan cash.
  4. Bisa merating sopir –> beda dengan sopir taksi reguler yang sering seenaknya memperlakukan penumpang.

Kelemahan:

  1. Estimasi waktu penjemputan tidak akurat karena hanya berdasarkan jarak. Mobil yang berada jauh bisa “mengalahkan” mobil yang posisinya lebih dekat.
  2. Masih memerlukan kartu kredit.  Bagusnya bisa ada fasilitas potong pulsa lebih enak hehe.
  3. Meyakinkan bahwa Uber aman. Terutama untuk penumpang perempuan yang sendirian. Di India sudah disediakan panic button, tapi untuk Indonesia saya lihat tidak ada.  Mungkin khusus untuk penumpang perempuan perlu ada lapis tambahan keamanan, misal sopirnya sudah punya pengalaman minimal sekian bulan dst. Untuk yang ini taksi reguler masih unggul.

Menurut saya Uber ini punya potensi besar dan bisa menjadi alternatif taksi reguler. Mudah-mudahan tidak dilarang pemkot karena menurut saya bisa mengurangi kepadatan Kota Bandung.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.