Pengalaman Menggunakan Gojek Bandung

Update Juni 16: setelah beberapa menggunakan Gojek, menariknya semua sopir Gojek selalu menelepon sebelum datang. Berbeda dengan Uber yang paling hanya 20% yang menelepon.

Melengkapi review transportasi berbasis app saya untuk wilayah Bandung: Uber, GrabTaxi, BlueBird.  Saya akhirnya mencoba Gojek.  Agak terlambat menggunakan Gojek karena untuk UPI dan ITB motor tidak bisa masuk bebas, bahkan UPI lebih ketat, motor dosenpun tidak boleh masuk.  Lagipula saya lebih sering pergi berdua.

Kemarin akhirnya datang saat yang pas. Perlu ke acara resepsi pernikahan rekan dosen di Cimahi. Sebenarnya jaraknya sangat dekat, tapi repot kalau menggunakan mobil karena harus menembus perumahan orang, ditambah macet di daerah Cihanjuang. Jadi ojek paling tepat.

Sempat agak bingung saat buka app Gojek karena kok peta jadi kosong, ternyata saya belum login (saya sudah daftar lama). Sempat agak sulit memasukkan alamat tambahan. Bagusnya ada history lokasi, nantinya akan lebih gampang.   Karena jalan depan rumah saya sempit, biasaya Uber  saya pesan di depan jalan besar dekat rumah,  tapi dengan Gojek enaknya saya pesan langsung di depan rumah. Harga langsung keluar, lebih murah dibandingkan ojek biasa memang.

Tidak lama kemudian ada telepon dari sopir Gojek. Berbeda dengan Uber, sopir Gojek sepertinya orang lokal sehingga langsung paham daerah rumah saya, dan 5 menit kemudian dia sampai.  Sedangkan Uber, memerlukan kira-kira 20-30 menit. Susahnya, sopir Gojek  tidak menggunakan identitas seperti jaket atau helm khusus. Identitas wajah juga sulit dikenali karena menggunakan helm. Nomor plat motor juga tidak ada di app. Jadi ya menggunakan bahasa tubuh (kedip-kedip sambil anguk-anguk 🙂 ) Ini berbeda dengan sopir Gojek Jakarta yang menggunakan jaket dan helm hijau berlogo. Dapat dipahami karena sentimen anti Gojek kuat di Bandung dan saya juga tidak mau ikut dipukuli hehe. Saya diberi pinjaman helm, tapi tidak ada penutup rambut, sehingga helm agak bau. Bagi saya sih tidak masalah, tapi mungkin bagi penumpang  perempuan akan kurang nyaman.

Sampai di tempat tujuan dengan sangat cepat (kalau mobil setidaknya perlu 2 kali lipat waktunya). Karena baik saya dan sopir kurang paham dengan lokasi tujuan, sopir seringkali melihat-lihat HP untuk mengetahui arah. Ini berbahaya, lain kali biar saya saja yang menjadi navigator. Cuma apa aman pegang-pegang HP di motor?

Setelah sampai saya bayar langsung. Ini juga perbedaan Gojek dengan Uber yang menggunakan kartu kredit. Memang sekarang ada GojekPay, tapi saya baca banyak penolakan dari sopir Gojeknya. Memang Uber mulai dari kartu kredit ke cash sedangkan Gojek sebaliknya.

Beberapa menit setelah perjalanan selesai, ada notif dari app bahwa perjalanan sudah selesai dan ada permintaan untuk memberi rating sopir. Pulangnya saya juga menggunakan Gojek.  Kali ini sopirnya lebih ngebut. Mengingat badan saya yang lumayan gemuk sempat ngeri juga kalau sampai tergelincir saat belok. Ini kelemahan Gojek dibandingkan  Uber. Uber untuk dalam kota paling-paling mobil saling bergesekan tapi kita relatif aman. Kalau motor, sudah resiko tertabrak, lalu jatuh, lalu bisa terlindas pula. Tulang dan daging bukan tandingan metal dan aspal 🙁

Jadi kesimpulannnya Gojek punya keunggulan di kecepatan. Waktu tunggu dan waktu sampai tujuan jauh lebih rendah dibandingkan Uber. Gojek juga bisa menjangkau medan sempit dan sulit parkir. Kelemahan Gojek dibandingkan Uber ada di aspek kenyamanan dan keamanan. Pilih yang mana?  tergantung kondisi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.